Being an orphan at 24

Kehilangan orang yang paling kamu sayangi adalah suatu fase yang akan dilalui oleh semua manusia. Peristiwa itu tidak pandang bulu, mau kamu masih kecil, remaja, dewasa, bahkan sudah lima puluh tahun pun tetap saja rasanya sama, sakit. Mau kamu ibu rumah tangga, arsitek, engineer, atau penulis puisi. Ya tetep aja, sakit.

Kehilangan yang saya alami cukup membuat saya syok karena saya kira fase ini akan menghampiri saya ketika orang tua saya sudah melihat saya menikah. Selalu terbayang di pikiran saya bahwa nanti mereka yang akan menceramahi saya siapa sebaiknya laki-laki yang saya pilih, baju mana yang baiknya saya pakai di acara pernikahan saya, dan nasihat perkawinan apa yang akan mereka berikan kalau nanti saya berantem sama suami. Sayangnya, bahkan Ibu saya tidak sempat melihat saya kuliah, padahal saat saya masih pakai seragam dan tau betapa saya gak suka sama seragam ibu selalu menyemangati saya “Yang rajin belajarnya, biar bisa lulus SMA, terus pakai baju bebas ke kampus.”

Banyak hal yang saya rasakan ketika saya baru-baru menjadi orphan. Saya merasa bahwa saya tidak boleh sedih di depan orang supaya orang-orang ga awkward (karena juga mayoritas di umur saya masih pada punya orang tua). Saya gak boleh jadi beban buat kakak-kakak saya. Saya jadi kurang hasrat untuk mempertahankan sesuatu karena saya tau ujung-ujungnya bakal ilang (termasuk dalam hal ini percintaan). Saya jadi bingung mau berlindung di bawah nasihat siapa. Saya juga bingung kalau ada pencapaian dalam hidup sekarang maunya dapat apresiasi dari siapa. Paling aneh sih saya sensi banget kalau ada temen saya di telepon Ibunya terus ga diangkat, padahal saya juga ga tau sebenarnya masalah apa yang terjadi diantara mereka, yang jelas saya jadi sebel aja gitu haha.

Saat kehilangan Ibu, saya tidak sempat berduka secara proper karena saya disibukan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Pun dengan Bapak, saya disibukan dengan pekerjaan. Apesnya,  sekolah dari SD sampai SMA gak ada guru yang ngajarin saya step-by-step nya buat mengahadapi masalah ini. Mungkin memang tidak ada kurikulumnya, guru-guru juga gak tau jawaban yang tepat kali ya. Yang saya rasa, saya terlalu muda, saya tidak ahli, saya tidak tau. Tidak mau tau lebih tepatnya. Ketidakmautauan saya berujung tragis ketika saya menyadari bahwa kesedihan dan kerinduan itu datangnya perlahan, ketika waktu telah berlalu berbulan-bulan dari kematian Ibu saya, di malam hari ketika saya tidak bisa tidur. Oh, pilihan yang sangat tepat untuk membuat saya menghabiskan tisu berlembar-lembar sampai mungkin bisa di demo sama kelompok penganut green life-style. Kadang saya mikir kalau Tuhan menciptakan rasa ini memang untuk dirasakan setiap waktu, kayanya saya bisa mati perlahan gara-gara rindu.

Dulu, kalau lagi kangen Ibu, saya tidur sama Bapak, minta diceritain tentang Ibu. Malam hari Bapak saya bangun dan beberapa kali saya melihat Bapak menangis saat berdoa karena merasakan hal yang serupa. Bapak saya tau waktu kapan dia boleh bersedih atas kepergian istrinya. Dia mempersilakan dirinya untuk sedih di waktu yang tepat, saat saya telah tertidur (setidaknya Bapak tidak tau bahwa saya sempat terbangun). Dari sini saya belajar untuk menghindari menyakiti diri sendiri dengan menganggap saya tidak pantas sedih. Rumus sedih gak ada yang tepat, selalu berubah. Rumus saya sekarang adalah “Kalau sedih, harus disegerakan.” Membiarkan air mata mengalir sebentar akan membuat saya lebih cepat ceria kembali. Tapi bisa jadi di kemudian hari rumus sedih saya berubah menjadi “Kalau sedih, harus nanti, pas anak udah tidur.”

Saya, Bapak, dan Ibu.

Saya diajarkan oleh Ibu saya untuk menerima sakit, baik itu sakit hati ataupun sakit fisik. Sehingga saat rasa rindu datang, saya berusaha menyambutnya. Tapi si rindu ini terkadang tidak tau waktu, ketika saya harusnya bekerja, ia datang tanpa permisi, begitu kuat sampai saya memutuskan untuk merasakannya, membuat pekerjaan saya tertunda. Terkadang ada teman yang empati, bisa mengerti apa yang sedang saya rasa, namun terkadang tidak. Adapun teman yang sudah berusaha empati, tapi karena perasaan ini datang di waktu yang salah, saya malah menyalahkan, bilang mereka gak ngerti karena mereka belum ngerasain, seperti butuh orang yang disalahkan atas perasaan ini.

Mengakui bahwa kamu sedang berduka, membutuhkan waktu sendiri, menurut saya adalah cara yang tepat ketika kehilangan orang tua. Mau dekat atau tidak, sepertinya Tuhan menciptakan suatu rumus rasa yang khusus antara anak dan orang tua. Gak ada kata yang bisa benar-benar menggambarkan rasa sakit, rindu, bolong, yang kita rasakan saat kita kangen sama orang tua. Mengambil cuti satu hari untuk menenangkan diri sendiri tidak apa-apa jika memang dibutuhkan. Menurut saya, sakit pikiran ini terkadang harus diberi perhatian lebih karena yang gini-gini nih yang ujung-ujungnya bisa bikin badan demam. Penyakit orang kerja kan gitu, tiba-tiba lemes terus kata dokter “Ini sih stress, banyak pikiran”.

Ada cara lain juga sebenarnya, yaitu dengan meminta orang memberikan waktunya untuk mendengarkan kita bercerita tentang kerinduan kita. Saya tau semua orang memiliki masalah hidupnya masing-masing. Tapi, jika rindu yang datang sudah tak bisa ditanggung sendiri, boleh juga kok minta bantuan ke orang sekitar untuk sekedar mendengarkan. Kalau saya sih lebih nyaman menghubungi teman yang sama-sama sudah kehilangan orang tua, lebih relate dan lebih lepas aja ceritanya. Perkataan “Duh, iya ya emang harusnya kalau masih ada harus sering-sering ngobrol” pun tidak akan terasa seperti menasihati atau menyindir.

Mengalami sekali kehilangan tidak lantas membuat saya menjadi ahli dalam menghadapi kehilangan kedua. Namun setidaknya saat peristiwa kehilangan yang kedua terjadi, saya lebih tau menghadapi teknisnya. Saya jadi manager pemakaman, dari mulai bayar ambulans, bagi-bagi tugas dengan kakak-kakak untuk menyiapkan pemakaman dan memberi kabar kepada saudara, sampai mengurus akta kematian orang tua saya. Setidaknya portfolio event manager saya bertambah satu, bisa menghandle event seperti ini (walau sambil nangis).

Kehilangan orang tua bukan berarti hidup kita akan sedih selamanya, walau iya, memang, rasanya sedih. Namun bagi saya pribadi (mungkin bagi kamu juga), kehilangan membuat saya lebih menghargai dan memaknai percakapan, pertemuan, dan pertukaran ide yang terjadi. Pertanyaan “Apa kabar?” saya jawab serius dan saya tanya balik juga dengan serius. Saya juga jadi rajin mencari kegiatan untuk menepis kesedihan. Awalnya saya hanya butuh kesedihan ini cepat hilang, namun saat kesibukan itu terjadi, saya jadi rajin bertanya, bertemu dengan orang, dan bahkan melakukan sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat buat orang lain.

Sebenarnya banyak kesedihan yang akan dirasa dari peristiwa kehilangan. Apalagi kalau sambil liat video atau album foto terus muter lagu yang menjadi kenangan. Namun, ternyata banyak juga hal yang saya dapat. Dengan kehilangan saya jadi lebih tau apa yang sebenarnya berarti. Uang, pekerjaan, dan segala hal-hal yang duniawi tentu berarti, namun menikmati waktu bersama orang yang kita sayangi akan menjadi hal terbaik yang bisa kita berikan untuk diri kita sendiri, setidaknya itu bisa mengurangi rasa sesal atas kepergian orang tersebut.

“As long as we can love each other, and remember the feeling of love we had, we can die without ever really going away. All the love you created is still there. All the memories are still there You live on–in the hearts of everyone you have touched and nurtured while you were here….. Death ends a life, not a relationship” – Thursday With Morrie

Tulisan ini dimuat di Cerita Perempuan Indonesia dengan judul How To Deal With Grief, 12 Oktober 2017. Tautan tulisan: https://ceritaperempuan.wixsite.com/ceritaperempuan/single-post/2017/10/12/How-to-Deal-with-Grief

I was born 200%

Aku selalu meyakini bahwa Tuhan menciptakanku lebih dari 100%. Seratus persen maksudku adalah tubuh yang lengkap ditambah otak yang, untungnya, bisa dipake berpikir. Aku lahir dari seorang wanita kuat yang diumur ke 40-nya masih mau meregang nyawa sekedar buat bikin aku ngerasain ngehirup oksigen. And yes, she was my +100%.

Aku ngerasa dia sebagai plus plusnya aku. Saking sayangnya, kadang aku belibet sendiri sama isi memori aku. Bener ga ya aku ngelewatin ini barengan sama dia, bener ga ya dia pernah bilang ini. Ya kayaknya sih bener. Ampe sekarang aku ngapa-ngapain inget dia mulu.

Morrie, di Tuesday with Morrie,

kalo ditanya kangen apa engga jawabnya iya. Padahal umur dia hidup tanpa ibu lebih lama dari pada hidup dengan ibu.

“Morrie,” Koppel said, “that was seventy years ago your mother died. The pain still
goes on?”
“You bet,” Morrie whispered.

And for me, 7 years without her (and still counting until the day i die) tentu bikin hidupku sepi, tapi aku yakin itu adalah keputusan terbaik Tuhan untukku. Kalo masih ada dia kayanya aku menye banget deh sekarang, apa-apa pasti minta tolong. Hari pertama ga ada dia aku biasa aja, hari kedua biasa aja, tiga bulan mulai sepi, setahun nangis mulu, dua tahun gatau ah mau ikut ibu aja bolega, tiga tahun aku mulai bilang ke diri aku sendiri “hidup buat hari ini aja pasti bisa kan dei?” untungnya setiap hari bisa, begitu terus aku bertahan sampe hari ini karena toh aku masih punya nikmat badan dan otak yang bisa aku pake untuk hal-hal lain, yang mungkin bisa disebut produktif, selain untuk merasakan sepinya ga ada dia, yang dipikir-pikir ga penting, toh dia hidup di hatiku terus kok.

Tuhan tuh kalo ngasih nikmat emang ga bisa diukur. Kalo diukur-ukur, ampe kiamat juga ga kelar ngitungnya. Nikmat yang dikasih Tuhan kepadaku lewat ibuku susah banget untuk dihitung. Aku dilahirkan dari orang yang mengajarkanku untuk mensyukuri nikmat Tuhan di setiap harinya, katanya, kalo ga ada yang kerasa bisa disyukurin, coba bersyukur aja masih bisa nafas, idung tuh nikmat Tuhan, tiap hari bersyukurlah seberat apapun harimu. Aku dilahirkan dari orang yang malesssss banget ngomongin aib orang lain, bikin aku males juga ngomongin orang. Aku dilahirkan dari orang yang mendidik anak-anaknya untuk tetep saling sayang, tetep saling jujur, dan sampe sekarang perihal sepele sampe ga sepele tetep keluarga yang tau duluan. Aku dilahirkan dari orang yang sampe akhir hayatnya berjuang, nyenengin orang dan nyebarin kebaikan.

Aku yakin dia pasti punya kekurangan dan aib, tapi aku ga tau sama sekali flawnya dimana karena Tuhan nutupin aib-aibnya, sampe kalau aku liat fotonya bapernya kaya liat cut nyak dien, liat ibu kartini, liat dewi sartika, liat pejuang aja gimana. Degdegser ada perempuan hebat yang ga minta dikenang jasanya tapi aku mengenang dengan sukarela karena apa yang dilakukannya memberikan pengaruh sama hidupku.

Happy second sunday of May, dear my eternal love 🙂

And there will never be another one
‘Cause I’m eternally yours
My heart’s a flame
And it’s burning in your name
Even through the sands of time
My love will always grow
And I won’t let go
No matter if you’re near or far
Our bond will never break 

(MLTR – Eternal Love)

Anen ibu :3

(kalo masi idup keknya ibu geli sendiri liat anaknya nulis2 kek gini)

Tentang Kehilangan

Tadi aku ketemu temen-temen SMA-ku, reunian dan katanya mau ada event, saat ditanya “De, mau jadi MC atau seksi dokum?” aku bilang jangan jadi MC nanti aku malah menyesatkan. Aku suka ga pede kalo konteks acaranya adalah sharing bukan seneng-seneng, kalo seneng-seneng sih aku mah jagoan. “Eh, tapi sediain kameranya dong, kamera ku dijambret.”

Sejak percakapan tadi, aku jadi inget lagi iya juga ya aku pernah dijambret, bulan Mei lalu. Semua barang-barangku hilang. HP, dompet, tab, dompet kantor, dompet kartu, tas kosmetik beserta isinya, notes, bahkan diaryku kejambret. Apes banget sumpah. Baru kali itu ngerasain dijambret, dijahatin, aku teriak minta tolong ga ada yang ngejar jambretnya. Tapi iya sih, jambretnya ngejambret tas naik motor akunya jalan kaki terus aku ngejar jambretnya pake lari lah dia mah kan naik motor udah pasti kalah akunya 😦

Rasanya dijahatin dan cuma dipelongin sama warga sekitar tuh gitu ternyata haha. Welcome to the world! Tapi entah kenapa rasa kehilangan aja biasa-biasa aja, kaya yaudah aja emang saatnya itu harta diambil sama jambretnya, ini besok aku harus ke kantor polisi, ke bank, ke pak rt, juga lapor sama bos soalnya semua atm kantor dijambret. Terus yaudah besoknya bener-bener gitu aja. Pas bikin berita acara kehilangan di kantor polisi pun, temenku yang nemenin cuma ngomong “Lu teh dijambret tapi kenapa malah ketawa-ketawa?” Iya, aku berasa hidupku kocak aja gitu akhirnya ngerasain dijahatin orang, dimana saat temenku dijambret aku cuma bisa prihatin aja, eee sekarang ngerasain. Mungkin kehilangan benda bagiku bukan perkara sulit selain ngerelain kenangan yang dibawa sama benda itu. Mungkin juga karena aku udah pernah kehilangan ibu yang sebegitu sayangnya sama aku, kehilangan-kehilangan benda seperti ini biasa aja, aku gak ngerasa hilang, cuma belom rejeki aja, padahal dulu pulpen dipinjem ama temen aja kalo ilang pake minta ganti. Tragedy makes me stronger kali ya. Etapi hati-hati ya buat wecewe jangan jalan cantik pake tas selempang ga bener di pinggir jalan. Jambret udah pada ahli!

Perbincangan dengan Teteh

Suatu hari, di jaman Dea yang kurang kepekaan akan lingkungan sekitar, aku pernah chatting sama tetehku. Aku bilang “Teh, kasian deh, itu anaknya dicuekin soalnya ibunya lulusan SMA.” kemudian tetehku bilang “De, sayang ibu ke anak tuh bukan masalah pendidikan, tapi masalah hati. Kamu sadar gak de kalo ibu kuliahnya juga ga kelar, so basically ya ibu lulusan SMA.”

Emang mulut seorang Dea ga disekolahin. Asal ngomong aja. Setelah kupikir kuperiksa emang bener apa kata tetehku. Masalah sayang sama anak itu masalah hati, bukan masalah pendidikan. Aku mau tambahin juga, ah, dan masalah lingkungan juga.

Aku dilahirkan dari ibu yang lulusan SMA. Bapakku ngelamar ibuku waktu ibu masih kuliah di Manado dan akhirnya di bawa ke Bandung, ya mau gamau ibuku berhenti kuliahnya. Dan apa yang aku pelajarin dari ibu lebih banyak mengenai nilai-nilai kebaikan. Kalau masalah sekolah, ibu selalu ada buat aku, dan nyemangatin aku kalo aku belajar. Entah kenapa ibu menjadikan aku merasa gak perlu untuk bertanya saat ngerjain PR karena aku udah belajar di sekolah ya PR jadi gak sulit dan saat ulangan ibu cuma bantu nanya2in, dan aku jawab. Aku gak pernah dipaksa untuk belajar sama ibu tapi aku selalu dikondisikan untuk selalu mengulang apa yang guruku ajarkan di sekolah.

Ada yang bilang bahwa “Perempuan mesti sekolah yang tinggi biar anak-anaknya juga pinter” dan ada yang bilang “Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi nanti juga paling ngurus anak, balik ke dapur.” Menurutku semua hal tersebut adalah keputusan perempuan, terserah dia mau ngenyam pendidikan atau engga. Menurutku, yang penting perempuan mesti punya hati. Hati itu adalah seonggok daging yang jadi di badan kita. Jadi, makanlah makanan yang baik-baik, lakukanlah hal yang baik-baik supaya hati juga menjadi baik.

Bisa juga baca tulisan tetehku mengenai ibu disini: http://ekadeau.blogspot.com/search/label/ibu

untuk ibu (lagi lagi dan… lagi)

image

Selamat ulang tahun yang ke…. em, 17, ya buu 🙂 Ibu licik deh bu, masa aku nambah tua tapi ibu muda terus. Young and happy ya bu disana? Pasti ibu banyak yang naksir, deh.

Karena di setiap tahun di tanggal 22 desember itu hari ibu dan 25 desember itu ulang tahun ibu aku selalu nulis tentang betapa kangennya aku sama ibu, kali ini aku mau cerita tentang bapak-bapak galau yang lagi heboh ngecat rumah yang katanya kangen juga sama ibu.

Ibu tau gak bu?

Bapak orangnya gak bisa move on, sampe sekarang Bapak gak mau lewat Rumah Sakit Hasan Sadikin kalo gak kepaksa banget. Katanya selalu inget usahanya ibu di chemo dan operasi beberapa kali. Bapak suka sedih liat kondisi badan ibu yang menurun terus, padahal Bapak gak tau aja kalo ibu tetep narsis foto-foto sama luka operasi di leher terus di rename ‘luka operasiku’ dan di share ke anak-anak.

Bapak baru aja beli album gede terus semua foto ibu dimasukin kesana. Aku tadi liat albumnya sama teteh. Muka Bapak mupeng banget waktu foto sama Ibu. Aku selalu tanya “Kenapa Bapak ajak ibu nikah di umur 19? Aku aja umur 20 belom punya pacar!” Bapak sih jawabnya “Soalnya Ibu takut bapak nikah sama orang yang suka sama Bapak di Sukabumi. Jadi langsung nikah aja di Manado.” Nyeeee.. ketauan banget itu mah Bapak yang kebelet nikah. Bapak sayang banget sama Ibu.

Bapak kalo galau hobinya liatin dvd pemakaman ibu sambil bilang “De, ibunya udah ga gerak.”, terus langsung ganti sama dvd pernikahan teteh sambil senyamsenyum keluar airmata kangen “De, disini ibu-nya gerak-gerak, cantik ya.” Aku cuma bisa nahan nangis kalo Bapak udah kangen keterlaluan gitu sama Ibu.

Bapak suka nyuruh bongkar lemari Ibu, supaya aku bisa cari baju yang bisa dijait lagi atau dikecilin, tapi endingnya bapak buka koper terus pegang kebaya biru ibu sambil bilang “Ini kebaya pernikahan, badan ibu kecil ya, De?” dan iya loh bu, badan ibu kecil banget aku sampe terharu pas nyoba kebayanya.

Bapak bongkar dompet terus nyuruh aku ngescan foto ini: 

image

aku ga ngerti banget ini bapak kenapa motong fotonya miring-miring sih. Apa jaman dulu emang gitu modelnya ya?

Pokonya ibu seneng-seneng aja disana, disini kami semua masih dan akan selalu mencintai ibu. Semoga nanti disana sekeluarga bisa saling mengenal dan bareng-bareng masuk surga ya bu 🙂

Aku yakin akan satu hal: Kematian itu tidak akan memisahkan cinta.

————–

XOXO,

Dea, anakmu yang suka nyesel kalo habis berantem sama Bapaknya alias suamimu, Bu. Maaf yaaa 😦

kangen ibu.

Judulnya ga ganti2, kangen Ibu aja terus.

Ya abis gimana dong, emang kangen. Muhihi.

Bapak baru pulang dari Sukabumi dan cerita-cerita tadi. Bikin kangen ibu dan bikin pengen nangis.

Bapak sengaja lama di Sukabumi soalnya mau bersihin makam ibu. Bapak bilang “Makam itu harus seperti taman, jangan sampe kesannya angker, Bapak baru tanam bunga melati kesukaan Ibu. Rumputnya juga udah Bapak ganti, jadi rumput Australia. Lebih bagus, lebih adem dari yang sebelumnya. Bapak juga udah pasang pagar besi di sekeliling makam Ibu, kalau pagar kayu tidak kuat dengan angin besar, sekarang kan lagi musim hujan. Bapak kemarin sore pamit sama Ibu mau ke Bandung dan makam Ibu udah lebih bagus.”

Walaupun Ibu udah meninggal, Bapak tetap menjalan tugasnya sebagai seorang suami.

Sabar ya, Bu. Kalau aku ada waktu liburan dan bisa ke Sukabumi, aku mau bantuin Bapak beresin makam Ibu.

Semoga Ibu selalu dibebaskan dari siksa kubur dan karena bisa tambah adem ya disana 🙂

Tunggu aku ya, Bu. Bareng-bareng ke surganya. Aaamiiiin. :*