Happy anniversary, Yumaju!

Judulnya kaya ngerayain buat berdua ya, padahal Yumaju doang yang ulang taun. Masalahnya saya juga ikut seneng nih jadi judulnya begitu. Buat yang pernah liat instastory saya, mungkin rangorang banyak nyang bingung “ni ngapain si Dea ke Yumaju mulu.” Jawabannya adalah… hm hm hm mari kita jabarkan dalam review subjektip ini.

Pertemuan yang berkesan

Pertemuan pertama saya dengan Yumaju tidak begitu berkesan, saya kesana hanya karena kata Ita, Ita lagi ngerjain copy-nya Yumaju. Dulu, Ita adalah copywriter di Nusae, studio desain yang megang brand Yumaju. Saya kesana cuma penasaran aja. Pertama kesana beli kopi, liat-liat, terus ga duduk lama. Soalnya emang cuma penasaran aja sama tempatnya.

deichanela1.jpg
Ita dan copy-nya whuowww, dulu bahkan di Yumaju ada foto Ita sekumpeni

Pertemuan selanjutnya saya lupa, sampai akhirnya saya kesana terus coba beli coklat. “Mau biji coklat yang mana kak?” CUY! GUA DITANYAIN MAU BIJI COKLAT YANG MANA SAMA ORANG COFFEE SHOP! Saya yang penggemar coklat langsung lah jatuh hati padanya hm bikelah mari kita coba berlama-lama di Yumaju. Sampai akhirnya saya ketagihan untuk kerja di sana. Saat itu saya masih digital nomad, nomadnya dari cafe ke cafe. Makanya saya suka dicurigai sebagai anak gaul karena hobi ke cafe. Padahal, ya saya cari tempat kerja aja. Soalnya kalo di rumah saya kebanyakan toleransi sama kemalesan diri sendiri. Moment itu adalah moment-moment awal pengembangan Drupadi. Jadi kalo ada meeting-meeting Drupadi saya minta tim saya untuk ke Yumaju aja yuk hehe.

Ambience Yumaju

Sedikit cerita, dulu waktu kuliah saya suka banget ke perpustakaan. Suasananya tuh sendiri, tapi rame-rame. Ngertikhan maksudnya. Kalau lagi bingung ya nanya aja ke temen sebelah. Waktu Tahap Persiapan Bersama (tingkat satu) pokonya semua yang bukunya mirip-mirip dan ngerjain soal tutor mirip-mirip pasti bisa terdistinguish dari pengunjung perpustakaan lainnya. Gak sih, saya gak pernah ngajak kenalan orang di perpustakaan. Pernahnya cuma nyolek-nyolek sambil bilang “Nitip laptop yah, mau solat dulu bentar, patrokaat doang.” Terus yang dicolek orangnya ngangguk.

Yumaju ini mirip sama perpustakaan. Sendiri tapi rame-rame. Bisa nitip laptop sama orang sebelah, terus dijagain. Biasanya saya ga pernah sharing table di coffee shop, kalo dateng ke coffee shop saya liat dulu ada tempat buat duduk sendiri apa engga. Tapi kalau ke Yumaju saya bersedia dijodohin ama siapa aja. Haha. Yumaju mengencourage yang dateng buat sharing table.

Biar ada percikan mungkin ya.

deichanela3
Default sharing table adalah yang di tengah, foto diambil sebelum tembok Yumaju bisa dicoret-coret kaya sekarang. Tapi table manapun bisa jadi sharing kalau lagi penuh, kecuali table yang di sofa.

Collaboration over coffee

Berhubungan dengan percikan, Yumaju memiliki slogan aduh apa ya kok kaya perusahaan slogan segala apasih istilahnya tuuu tagline bukan sih? Tagline aja kali ya, collaboration over coffee. Dimana kolaborasi dapat terjadi hanya dengan minum-minum kopi dan sharing table.

Kolaborasi pertama saya di Yumaju lumayan unik. Saat itu saya dan Kennya lagi ribet sendiri karena Drupadi harus launch website dan sosmed untuk menyatakan kehadirannya di digital world. Iya, bagi kami para pejuang ide tapi ga punya kantor, presensi di dunia digital mesti dibangun.

Dalam kesibukan dan kesunyian masing-masing, kami overheard dua orang yang lagi duduk di sofa lagi ngobrol sama yang punya Yumaju, tapi ngomongnya ngomongin perempuan. Sebagai perempuan yang suka ngomongin isu-isu perempuan saya langsung nguping dengan khidmat, Kennya juga ternyata sama. Saya liatin Kennya lumayan lama, mengisyaratkan ajak kenalan gak ya tu dua cewe. Akhirnya Kennya memutuskan untuk beranjak dari tempat duduk, ngajak mereka kenalan. Saya menyusul setelah ngepost post pertama di instagram Drupadi.

deichanela5.jpg
Dua orang dari Cerita Perempuan yang saya dan Kennya ajak kenalan (Lyla dan Ayesha). Foto diambil tentunya setelah kita temenan lah yakale baru ketemu langsung foto, eh… tapi… kayanya kita selfie sih hahahahaha) ini area outdoor Yumaju.

Baru kali loh saya kenalan sama orang di coffee shop karena nguping. Super weird tapi kenalannya emang dimulai dengan “Halo Mba kenalin, tadi kita nguping pembicaraa nih, hehe kita tuh dari Drupadi …” kemudian dilanjutkan dengan ngomongin isu perempuan. Iya, mereka dari ceritaperempuan.id.

Dan bbbam! Terjadilah dua kolaborasi dengan ceritaperempuan (poetry reading dan acara talkshow tentang seks). Selain sama ceritaperempuan, Drupadi juga sempat berkolaborasi dengan musisi jazz kak Grace Sahertian. Sekarang saya lagi ngerjain kolaborasi lain juga. Berbekal nebeng meja orang, kenalan, dan dikenalin, saya yakin kalau mayan rajin ke Yumaju, kamu juga bisa bikin kolaborasi.

deichanela4.jpg
Cerita Perempuan dan Drupadi (Ala, Asih, Ryandi, Misha, Kennya, dan Ayesh), ini diambil waktu ulang taun saya, haha ga ada maksud mereka ngesurprisein tau saya ultah aja engga, tapi saya kaya dirayain aja ulang taunnya wong semua temennya ngumpul di sini.

Minuman dan makanan favorit di Yumaju

Saya anaknya laperan. Asli. Saya pasti nyari coffee shop yang jual makanan berat, bukan pastry aja. Yumaju ini ya begitu. Dia menyediakan ruang untuk orang-orang yang suka kopi (coklat deng, kopi aku suka banget tapi perutku gakuwat) tapi laperan kaya saya. Tenang aja, gak usah khawatir bakal nyium bau-bau sambel atau tumisan kalau ke Yumaju, karena kitchennya ada di Blackpepper (restaurant yang bersebelahan dengan Yumaju).

Saya hobinya juga nanya, sampe sekarang masih nanya, kadang curhat.

“Akutu lagi laper, pengen makan berat, ada nasi, tapi gamau nasi goreng, enaknya apa ya?”

“Akutu tumben nih lagi pengen kopi, tapi please pilihin yang low acid, pokonya semuanya low, yang kata Andre paling ga ngefek aja.” (Andre: nama barista Yumaju).

Intinya, rekomendasi yang diberikan sama Yumaju saya percaya aja. Tapi saya juga masih punya minuman favorit. Kopinya: kopi Jambi. Tehnya: Chai Latte. Coklatnya: apa aja, blend juga oke. Untuk makanannya: Garang Asem dan Chicken Wings. Range harganya gak terlalu mahal, makanan dimulai dari Rp20.000 sampai Rp50.000.

deichanela6.jpg
Menu di Yumaju, bagi saya gak terlalu mahal. Gambar menu diambil waktu beberapa bulan yang lalu (sengaja, kalau-kalau ngidam lagi pengen ngegojek seswatu), tapi fail karena daripada ngojek ya saya mending kesana sekalian.

(Adult) Friendship

Mengutip apa kata Asih “Adult friendship tuh butuh effort.”, nah di Yumaju ini saya bertemu dengan orang-orang yang udah dewasa secara umur tapi asli masih pada mau temenan. Berawal dari kenalan atau dikenalin, kalau ke Yumaju saya jadi lebih berani ngajak ngobrol duluan, niatnya sambil itung-itung ngasah skill ngegas cowo, walau ujung-ujungnya ilmunya ga pernah saya pake hahaha.

Segerombolan orang yang suka berlama-lama di Yumaju ini akhirnya saling cerita, saling ngasih saran, dan jadi saling ngabarin kalau ke Yumaju. Mungkin di antara kami juga ada yang saling suka tapi masih malu-malu. Yumaju ntar jadi yumarried kali ya. Saya bisa jamin kalau kamu keseringan kerja di Yumaju suatu saat kamu juga bakal kenalan sama orang yang suka kerja di Yumaju. Entah itu karena ditakdirkan untuk sharing table atau pas ngobrol emang cocok aja.

Pertemanan di Yumaju diperkuat dengan suasana yang dibangun sama Harry (sampe sekarang asli gatau nama panjangnya Mas Harry). Mas Harry ini encourage us to share our table sama ranglaen, ngajak ngobrol pengunjung (utamanya yang dateng sendiri dan keliatan lagi ga serius-serius banget), nyediain banyak banget colokan, nerima masukan dari pengunjung, sampe yang paling keren: nyediain speaker di bagian outdoor.

deichanela7.jpg
Yang pada suka ngumpul di outdoor (Ki-ka: Mas Bayu, Jaka, Ala, Asih, Mas Niko (bawah), Mas Erlan (atas), Ayesha, Kak Nad, Ayda, Si Cantik dari Punkhegar)

Monday madness (MNDYMDNSS) adalah salah satu kejadian yang ga direncanakan tapi bisa terjadi. Karena yang di luar hobinya nyanyi, kita dikasih speaker. Speaker woyyy. Kurang baek apa. Jadi tuh setiap Senin malem di bagian outdoor entah kenapa sekarang dedicated dipake untuk nyanyi-nyanyi. Playlistnya? Tinggal masukin ke playlist spotify, kadang juga ada DJnya (alah gaya, operator doang juga), jadi bisa request. Sampe kalo lagunya tuh lagu guilty pleasure yang bukan Yumaju banget kita suka komen kaya “Waduh, ni asli ya kalau ada Harry mampus ni.” Segerombolan orang ini udah tau brandnya Yumaju kaya gimana, apal peraturan Yumaju kaya apa, sampe kalo-kalo kita nyetel lagu juga mesti ati-ati. Iya, tjoy, Yumaju strict banget sama peraturannya. Sisanya silakan liat foto di bawah ini.

deichanela8.jpg
Gabole nyampah, gabole bawa binatang piaraan, gabole ngeroko di dalem, ga bole berisik banget, jan bawa senjata berbahaya (hm tapi netijen tu jarinya bahaya hahaha), ga bole pake seragam, tasnya disuru gantung di gantungan (yak betul, di sono ada gantungan tas), dan gabole bawa makanan dan minuman dari luar.

Yumaju is not a coffee shop: It is a co-working space filled with the smell of coffee beans.

Saya melakukan sedikit observasi terhadap Yumaju yang ujungnya ada di dua hal:

  • Yumaju melakukan apa yang dilakukan oleh coworking space
  • Yumaju membentuk komunitas

Mathias Schuermann (2014) bilang di bukunya ada 5 hal yang esensial di coworking space:

  1. Collaboration: Working together; the will to cooperate with others to create something of value. This might be the strongest point.
  2. Community: A group of like-minded people who work together. Each line contributes to the community and in return receives from the community.
  3. Sustainability: Staying power, a driving force for financial stability to ensure continuity, creating a community that can thrive indefinitely through the careful use of sparse resources.
  4. Openness: Being open to the sharing of ideas and information, as well as being open minded and tolerant toward other coworkers.
  5. Accessibility: Working in a Coworking Space has to be financially viable to the users as well as accommodate all users’ physical needs.

Dengan strategi encouraging people to share their table, ngajak ngobrol (khususnya tentang interest) Yumaju bener-bener berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan pengunjungnya dan buat pengunjung tau satu sama lain. Most of people yang saya temui di Yumaju adalah seseorang yang lagi ngerjain sesuatu. Kalau duduknya di sofa biasanya emang lagi mau ngaso/temu temen kemudian curhat. Yumaju berusaha menggapai poin pertama dan poin yang paling penting: collaboration, and it did happen (setidaknya buat saya).

Ketika perayaan ulang tahun Yumaju yang pertama, Yumaju mengadakan acara untuk sharing-sharing, kata designerny (atau arsiteknya ya? hm saya lupa) “Entah kenapa ya, yang dateng ke Yumaju tuh mayoritas pake baju warna item.” It means that Yumaju emang bakal jadi selera steve and stevanie jobs hahaha apasi maap saya ngarang siapee pula stevanie jobs. Yang dateng kesana emang like-minded people, kebanyakan orang-orang yang kerja di dunia kreatip. Writer, graphic designer, developer, community developer, atau rangorang kaya saya, udah punya ide yang direncanakan untuk menjadi bahan cuan tapi.. nda ada kantor. Komunitasnya terbentuk ketika orang-orang tersebut saling berinteraksi satu sama lain dan memutuskan untuk menjalin relationship. 

deichanela9.jpg
Mayoritas item-item monokrom seperti album Tulus huwohuwo, diambil saat ulang tahun pertama Yumaju, temboknya udah bisa dicoret-coret.

Yumaju is not an event space. Tempatnya kecil jika dibandingkan coffee shop pada umumnya. Tapi kalau Yumaju bikin event, biasanya itu adalah event yang dibuat dengan pengunjung regulernya. Menariknya, ada event yang terjadi dengan organik seperti mondaymadness. Menurut saya, melihat event sebagai suatu hal yang dapat memperkuat kolaborasi (bukan sebagai konten yang harus banget ada tiap bulan) adalah suatu hal yang dapat menjadikan Yumaju sustain. Kalau Yumaju bisa memultiplikasi pelanggan kaya saya, kayanya mau masuk ke ranah merchandising juga bisa.

deichanela10.jpg
Doodle di cup-nya Yumaju, waktu itu sempet ada workhsopnya di Yumaju barengan @elfandiary

Di Yumaju kamu bisa kasih masukan tentang makanannya, tempatnya, dan apapun deh. Pernah suatu hari saya lagi ga enak badan tapi mesti makan. Terus pesen makan, tapi ga abis. Didatengin dong sama baristanya (Aiman) ditanya, kenapa ga abis, ga enak? Atau gimana? Padahal emang lagi enek aja. Pengalaman ini juga pernah saya dapatkan di The Goods Cafe (Pacific Place), tapi saya ga heran, soalnya Goods Dept gitu. Kalau di Bandung asli baru di Yumaju ada yang nanyain saya kaya gitu. It means Yumaju open sama kami-kami ini. Walau belum tentu masukannya di-iya-in, dengerin masukan dari pengunjung adalah seswatu banget buat saya mah. Naiseu!

Terakhir bahas aksesnya ya. Yumaju sangat gampang diakses, hanya dengan kopi (dan menu lainnya), harganya juga sesuai kalau bagi saya mah. Beberapa cafe atau coffee shop kadang bikin saya bertanya-tanya “Apaan tjuy gini doang mahal.” Di Yumaju saya gak pernah ngeluh harganya, akses aer putih juga gratis. You know kan ya abis minum kopi baeknya minum erputih.

Yumaju is not my favorite coffee shop, it is my favorite place.

Yumaju ada kekurangan-kekurangannya juga tapi kekurangannya sekarang ketilep sama tjinta. Walau pasti ada bosennya, saya tuh seneng sama vibe-nya Yumaju. Tulisan ini mungkin terlihat sangat subjektip dan sugarcoating tapi ya namanya lagi shayank mah ya begini. Saya sempat datang ke Yumaju di hari ulang tahun saya, dapet kopi dan donat gratis tuh gimana ya he he he kesenengan.

deichanela12.jpg
Dea dan usianya yang 26 tahun dengan bunga dari teman-temannya duduk di kursi Yumaju.

Bagi saya orang-orang yang saya kenal di Yumaju adalah orang-orang terbaik pilihan Tuhan, ada yang ngerasa itu keluarga, tapi saya engga, mereka mah temen. Kalau sama keluarga saya tuh ada yang disimpen-simpen dan dikasih taunya nanti-nanti, kalo sama mereka saya kaya ember bocor dan tidak memilki harkat dan martabak. 

Kalo kata Mas Erlan “Boleh kok De be yourself, tapi dikit aja.”

Terimakasih telah menjadi tempat yang dapat mengakomodir berbagai kebutuhan primer saya: makan, minum, dan teman.

Happy birthday, Yumaju. 

deichanela11.jpg
Terbike adalah: kita sampe poto studio ya Allah ya Allah bagaikan anak SMP 😦 Aku malu tapi aku shayang dan posesip sama kalean wahai strangers yang become friends. (Background foto: copy-nya Ala untuk ulang tahun Yumaju)

XOXO,

Dea Choco Marella.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s