What is it like to be a woman in technology?

IMG_4595

Sengaja saya pilih foto candid yang gak fokus, lagi pengen nyebelin haha.

“Kak mau nanya, ini bener ga?” Kemudian saya kirim satu paragraf tentang Sprint Review Meeting (SRM)

“Buat naon?”

“Caption ig”

Selang 7 menit dia bales “…Selanjutnya, akan ada sesi terbuka bagi tim untuk membahas what worked and what did not work mengenai so far pencapaian prototip produknye Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan ide, feedback, dan mendorong kolaborasi yg tujuan utamanya supados di sprint berikutnya produknya bisa dikembangkan lebih baik, atau klo gada sprint berikutnya spy ketauan palebah mana bisa dibnerin klo next time aya oportuniti produknya mau dikembangin deui.”

Baique.

Secara tulisan dan kepribadian tidak ada pencitraan, penuh originalitas.

Tanti Sofyan, namanya. Demi keenakan membaca, mari kita panggil Tanti aja (biasanya saya pake “Kak” haha). Bagi saya, berkesempatan ngobrol dengan Tanti adalah suatu hal yang susah diwujudkan karena dia tuh kek gampang sibuk dan gampang sakit. Memang harus minum enervon c, biar gak gampang sakit. Setelah berkali-kali mengatur jadwal, akhirnya saya berhasil ngobrol dengan Tanti, lewat telepon tapi (teteuuup sibuk).

Obrolan saya diawali dengan niat nyari konten untuk media sosial kantor saya di bulan April, karena yaaaa apalagi kalau bukan untuk memperingati Hari Kartini. April dan Kartini identik dengan perempuan, 100% dari media yang saya follow pasti membahas perempuan, sejarah kartini, dan akhirnya karena kesadaran bahwa perempuan hebat itu ada banyak, bukan hanya kartini saja, muncul juga kartini-kartini modern ceunah istilahnya mah. Tidak lupa artikel clickbait, yang selalu saja saya kena baitnya, dengan judul wow 7 perempuan ini cantik banget pakai kebaya! wow nomor 5 ternyata lalaki wow tapi dia geulis pake kebaya wow wow wow uwuwuwuwuwuw, bermunculan memenuhi linimasa Twitter, Line Today, dan explore Instagram. Namun, yang saya dapat justru inspiresyen dan kek penyadaran gitu sebagai perempuan.

—-

Sebagai pendahuluan, Tanti sempat bekerja di Singapur sebagai arsitek sebelum menjadi Head of Research and Creative Lab di Sembilan Matahari, sebuah perusahaan yang kalo menurut saya mah pelopornya video mapping yang grande gitu di Bandung (untuk melihat Sembilan Matahari, klik di sini aja ya). Dua tahun bersahabat dengan teknologi, kemudian Tanti melanjutkan pendidikannya di Institute for Advanced Architecture of Catalonia, Barcelona untuk mendalami desain interaktif. Sampai akhirnya sekarang bekerja sebagai Chief of Design Officer dan bagian dari board di Labtek Indie, sebuah perusahaan riset, design, dan pengembangan produk teknologi dengan pendekatan human-centered design.

Pada tahun 2017, Tanti diundang oleh British Council untuk melakukan riset ke Inggris mengenai masalah lingkungan dan bagaimana teknologi dapat membantu meningkatkan kesadaran akan hal ini dan meningkatkan kualitas hidup. Menerapkan Design Thinking dalam risetnya, Tanti melakukan proses emphatize dengan cara membuat beberapa workshop yang melibatkan masyarakat Liverpool. Workshop tersebut mengajak masyarakat untuk mempelajari bagaimana memanfaatkan teknologi dan bagaimana mengimplementasikan keterampilan tersebut untuk membuat solusi kreatif dan interaksi dengan dunia. Di akhir riset Tanti memanfaatkan teknologi untuk mempresentasikan hasil risetnya dalam bentuk instalasi. Dari riset tersebut, Tanti belajar bagaimana sebagai designer, ia harus bisa melakukan riset yang eksploratif.

Diungkit soal bagaimana rasanya jadi perempuan di bidang teknologi, Tanti menjelaskan bahwa menjadi perempuan di bidang teknologi sama seperti menjadi perempuan di bidang pertanian: ga ada yang spesial sih, karena kesempatannya selalu ada untuk siapapun, bedanya, yaaa emang sedikit aja yang mau ngambil kesempatanya, kalau pun banyak ya emang ga semuanya mau eksis.

Tanti memahami bahwa sebagai perempuan, ada kecenderungan untuk tidak menunjukan pencapaian di suatu level, because it doesn’t matter. Sehingga mayoritas kesempatan untuk mendalami bidang tertentu pun banyak yang terbiarkan oleh perempuan.

Saat beberapa mata melihat dirinya sebagai “Woman in Technology”, Tanti mengaku bahwa ia memang berkecimpung di bidang teknologi but being known as a woman in technology is not her priority. Tanti memang selalu berusaha bekerja sebaik mungkin dalam bidangnya, tapi ia juga ingin masak dan main game di rumah. Ia menganalogikan hidupnya dengan backlog “Hidup gua tuh user stories-nya udah dipilih, jadi ga akan bisa didistract, karena udah ada tingkat prioritasnya.”

Beberapa kegiatan sosial pun digagas oleh Tanti dan teman-temannya. Mulai dari Sinabung sampai Sulawesi. Di awal perjalanannya ke Sinabung sebagai relawan, Tanti dan tim membantu mengumpulkan kebutuhan primer untuk meringankan beban korban bencana alam. Saat kunjungan untuk ke tiga kalinya, kebutuhan lain, seperti capacity building untuk bercocok tanam, muncul. Sehingga pilihan kebutuhan primer sebagai bahan bantuan pun bergeser menjadi bibit tanaman, Tanti dan tim menggagas proses pengumpulan bibit tanaman tersebut, seperti merangkul kembali local champion yang pernah terlibat dalam kunjungan-kunjungan yang sebelumnya untuk bekerjasama menghadapi bencana alam Sinabung. Dalam melaksanakan kegiatan sosialnya, Tanti dan tim memanfaatkan sosial media dan berhasil mengumpulkan seratus juta lebih hanya dalam satu minggu. Tanti juga sempat tergabung dalam tim yang pergi ke Sulawesi untuk untuk memfasilitasi anak-anak di komunitas-komunitas terpencil di Indonesia untuk melakukan pemecahan masalah melalui pendekatan design thinking. Kegiatan ini merupakan adaptasi dari banyak usaha yang telah dilakukan di banyak negara dengan metode yang sama (lengkapnya bisa dibaca di sini).

Saat ditanya soal “Apakah pernah berada di posisi yang tidak menguntungkan sebagai perempuan dalam karirnya?” Tanti memaparkan bahwa konstruksi sosial disekitarnya tidak pernah membuat ia merasa didiskriminasi atau berada di pihak yang tidak diuntungkan sebagai perempuan. Menurutnya, kita seharusnya bersyukur karena di beberapa negara gaji perempuan 30% lebih sedikit dari laki-laki, malah kalo di Amerika atau Inggris, laki-laki lebih diprioritaskan untuk memegang jabatan manajer dibanding perempuan karena banyak hal dalam diri perempuan yang dianggap dapat menghambat pekerjaan seperti kurang bisa membuat keputusan yang objektif karena memiliki maternal side dan maternal leave yang memakan banyak waktu kerja.

Diskusi yang menarik dari pembicaraan saya, Tanti dan Desti (kita ngobrolnya bertiga btw haha), sempat terbahas beberapa kali masalah buku Lean In. Emang sih di buku ini dipaparkan beragam riset yang memvalidasi perilaku perempuan dalam dunia kerja, seperti perasaan yang selalu tidak pede akan pencapaian, tidak berani speak up, dan juga selalu mempertimbangkan hal lain dalam membuat keputusan terkait karirnya, seperti, ekhem, menikah.

“Many people, especially women, feel fraudulent when they are praised for their accomplishments. Instead of feeling worthy of recognition, they feel undeserving and guilty, as if a mistake has been made. Despite being high achievers, even expertise in fields, women can’t seem to shake the sense that it is only a matter of time until they are found out for who they really are — impostor with limited skills or abilities.”

Anyway, impostor syndrome bisa terjadi pada siapa saja, tapi kalau di perempuan tuh lebih kerasa gitu. Bisa baca tentang impostor syndrome di sini. Hal menarik lainnya adalah perempuan cenderung takut tidak disukai oleh orang lain atas pencapaiannya sehingga perempuan lebih memilih untuk tidak membicarakannya (alias gak umbar-umbar haha). Riset Heidi/Howard membuktikan bahwa success and likeability are positively correlated for men and negatively correlated for women. 

Menurut Tanti, what could we do selanjutnya adalah bagaimana kita dapat menikmati pendidikan sebagai suatu perjalanan hidup dan tidak usah mempermasalahkan tentang “sebagai perempuan”-nya karena kesempatan mah sama aja kok, sama juga dengan kemungkinan untuk di-underestimate, berlaku buat laki-laki dan perempuan. Tinggal keberaniannya aja diasah untuk menghadapi challenge yang akan muncul setelah pengambilan keputusan tersebut. Karena tidak dapat dipungkiri ada beberapa hal yang harus kita hadapi sebagai perempuan karena konstruk sosial yang sudah terbentuk di masyarakat.

XOXO,

Deayayayyayaya~

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s