Gratitude Post: Teruntuk Rizka

Teruntuk Rizka, sahabat ‘til jannah (insyaallah).

Rizka dan saya berteman sejak SMP, dimana hobi kami jalan-jalan pakai mukena, main basket pake mukena, makan pakai mukena, dan belajar pakai mukena. Kami teman satu asrama, namun beda kamar. Setelah keluar dari asrama pun saya dan Rizka sering naik angkot bareng karena satu arah. Sehingga frekuensi kami bertemu sangatlah sering, sayangnya saat SMA kami terpisah dan saat kuliah pun kami berbeda kampus.

Saya mengenal Rizka sebagai sosok yang kadang-kadang suka skip dan rajin melakukan kebodohan-kebodohan, gampangnya sih lieur. Tapi Rizka itu saaaangat ceria, pandai menyimpan rasa sedih, dan selalu ada untuk teman-temannya. Rizka juga pandai mendeskripsikan perasaannya lewat gambar dan lewat kata-kata yang menghibur, sehingga tidak jarang dari teman-temannya yang minta tolong gambarin ini itu ke Rizka.

Saya dan Rizka udah gak takut nyakitin hati sih kayanya kalau ngomong, tadi aja contohnya Rizka ngaji terus gak ngajak saya, saya cuma nanya “Ca, lu tadi kenapa ga ajak gua? Gak kepikiran gua ya?” Rizka cuma jawab “Iya.” terus saya cuma “Ok.” kemudian lanjut makan bakmi. Dulu waktu awal-awal berteman jujur-jujur kaya gini nih bisa menyebabkan perpecahan, tapi kalau sekarang lebih butuh jujur kaya gini daripada dibalut sama gula jadi keliatan fake-nya.

 

Percakapan saya dan Rizka jarang sekali serius, sekalinya serius bisa jadi melibatkan air mata. Air mata stress, air mata bahagia, sampai air mata ngantuk. Kuat adalah kata yang pantas untuk Rizka. Rizka kehilangan Ibunya saat masih SMP, saya sih syok banget denger kabarnya, namun Rizka terlihat kuat dan tabah, tentu saya yakin rasa sedih dan kehilangan pasti hinggap di hati Rizka, tapi Rizka memilih untuk tersenyum. Dari situ lah saya belajar untuk tidak menampakan kesedihan secara berlebihan.

Saya dan Rizka suka ngobrol masalah ke-insecure-an kita sebagai perempuan yang belum menikah, khususnya bagian “Ca, apa jangan-jangan kita gak laku ya?” tapi abis itu kita suka sama-sama La Tahzan.. La Tahzan.. “Kebahagiaan kita tidak terletak pada harta, tidak pada penampilan diri, tidak juga pada gemerlap perhiasan dan keindahan dunia. Ukuran kebahagiaan terkait erat pada hati dan ruh manusia yang mendamba ridha Tuhannya.” Habis itu scroll jadwal kajian terdekat untuk menentramkan hati.

Hihiy, thank you Rizka untuk semuanya!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s