Gratitude Post: Teruntuk Inayah

Teruntuk Inayah, perempuan terjujur yang saya kenal.

Kenal Inayah buat saya adalah suatu anugerah. Perempuan yang baik, jujur, dan sangat kritis. Untuk Inayah start with why adalah suatu keharusan. Kalau saya diajak main sedikit langsung ayok aja, Inayah berbeda.

Jika ditanya mau ikut ini ga? Mau ikut itu gak? Inayah selalu menyempatkan diri untuk berpikir, kenapa saya harus ikutan ini dan itu. Contohnya aja kalau mau ngobrol “Nay, ke cafe ini yuk.” Inay nanya dulu “Mau ngapain?”, “Ya ngobrol aja gitu Nay sambil makan, sambil cerita-cerita.”, “Kenapa harus di cafe? Kan di kantin dalem kampus juga bisa.” Yang bikin saya mikir, iya ya, kenapa harus disana, kenapa harus makan itu, kenapa harus ini dan kenapa harus itu.

Seperti halnya dengan kesukaan dan passion, kalau saya tanya apakah Inayah mau nonton konser atau engga, Inay jawabnya “Malu, Dei. Uang dipake untuk konser tuh rasanya malu. Bukan prioritas aku.” Membuat saya berpikir lagi. Sampai sekarang, saya contoh nyata banget membangun masyarakat, beda dengan Inay udah mulai semenjak lulus kuliah. Inay belajar dan bekerja untuk membangun sebuah komunitas yang sadar akan energi untuk bangsa Indonesia.

Saya pernah nanya ke Inay tentang galau kerja. Inay bilang

“Cari tau kamu maunya apa cita-citanya apa, kalau aku sih ingin bermanfaat, cita-cita aku keliling Indonesia, tapi aku ngerasa kalo gitu doang kurang bermanfaat. Cari tau prinsip kamu, kalo aku, aku mau stay di bidang engineering, bersentuhan dengan masyarakat secara langsung dan bisa empowering people. Habis dari situ cari informasi pekerjaan, komunitas, atau lembaga dan deketin mereka, jalan menuju cita-cita akan terbuka sedikit demi sedikit.”

“Kalau visi misi value dari yang kamu kerjain ga bener-bener merupakan apa yang kamu pengen, ntar kamu jadinya cuma ikut-ikutan aja.”

Saya sesungguhnya tau teori ini, tapi sangat susah menjalankannya. Kesenangan dunia selalu susah ditolak, apalagi kalau urusannya udah sama uang. Inay adalah contoh hidup yang bener-bener ngikutin apa yang diomonginnya. Soalnya kadang ada aja orang yang ngomong doang. Saya kalau lagi gak ada duit terus banyak pengennya selalu ingat pesan Inay ini.

Boleh jadi saya dan Inay seumuran, tapi apa yang Inay lakukan ke saya itu bener-bener nunjukin kalau Inay lebih dewasa dari saya. Kalau saya salah, saya dikasitau gimana yang sebaiknya dilakukan. Kalau saya galau, saya diarahin buat nyari jawaban yang sebenernya saya sendiri udah tau. Sejauh saya berteman sama Inay, Inay selalu ngingetin saya dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Kayak “Ayo kita mulai nulis lagi, satu hari satu tulisan yang dishare.” sampai pesan-pesan tentang kehidupan.

Thanks, Inay!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s