Gratitude Post: Teruntuk Saskia

Teruntuk Saskia, yang saya yakin bisa menjadi ibu yang sempurna.

Saya dan Saskia tidak terlalu dekat saat SMA, hal itu dikarenakan saya kakak kelas dan Saskia adik kelas, ditambah tidak ada irisan kegiatan ekstrakulikuler. Sebenernya dulu kami sama-sama tertarik dengan volunteering di TEDxBandung dan juga Komunitas Sahabat Kota. Tapi entah kenapa saya tidak ingat dengan Saskia, sama sekali tidak ingat, begitu pun dengan Saskia kayaknya. Saat saya membuka foto-foto volunteering beberapa tahun yang lalu, Saskia bilang “Lah, ini kan gue!” Lah iya, ya. Saya fotografernya kok saya gak inget sama sekali.

Beberapa tahun kemudian, Saskia, yang hobinya volunteering, mendaftar untuk menjadi volunteer di salah satu pertunjukan yang saya produseri. Saya berkenalan lagi dan saya makin ngeh kalau dia adalah adik kelas saya dulunya. Intensitas pertemuan kami meningkat karena pekerjaan yang mengharuskan. Saya jadi sadar bahwa Saskia memiliki sikap keibuan, asli. Hobi beberes dan menyayangi semua orang haha. Makanan yang Saskia pilihkan untuk casts yang terlibat dalam produksi saat itu pun selalu enak. Mungkin karena itu pula kali kecengan saya memutuskan ngecengin Saskia. Sad.

Pilihan buku Saskia juga lebih ‘berat’ dari saya. Saya hobinya baca yang ringan-ringan, terkadang receh, bahkan comic strip yang cuma selewat. Saskia mengenalkan saya pada buku yang menceritakan cinta Ibu Inggit Garnasih terhadap Pak Soekarno, menyadarkan saya bahwa Pak Karno yang menurut saya sempurna, ternyata ada flaw-nya juga. Ibu Inggit yang segitu setianya sama Pak Karno aja bisa ditinggal. Huks. Saya jadi sedih.

Jangan ditanya saya bisa atau engga masak kaya Saskia. Jawabannya: Ngga. Sepandai-pandainya saya memasak rasanya gak akan lebih dari bumbu Masako. Beda sama Saskia. Western? Bisa! Eastern? Bisa! Cake? Apalagi! Saya pernah mencoba brownies yang Saskia bikin sampe minta maaf karena ngambil mulu sampai habis.

Pernah gak sih menemui adik kelas yang ternyata lebih mature dari kamu? Nah, Saskia itu gitu. Dia umurnya lebih muda (yaaa.. beberapa bulan doangsih) tapi mature banget. Saya dan Saskia berbeda keyakinan, tapi Saskia gak pernah ngotot didepan saya masalah keyakinannya. Tau gasih kalau temenan kan kita suka pengen teman kita sama kaya kita biar enak semuanya bisa bareng, kalau sama Saskia saya santai aja.

Saat Bapak saya meninggal, teman-teman saya banyak yang kasih semangat, Saskia cuma bilang “Aku gak bisa berkata-kata, there’s no good card for this, I’m so sorry” begitu real. Saya butuh temen kaya gini satuuu aja, yang gak manis-manis tapi gak pait-pait juga. Plain tapi sincere.

Dibalik galau-galaunya Saskia, saya selalu melihat ada semangat menjadi perempuan tangguh yang akan bergantung pada laki-laki pada saatnya sesuai porsinya. Saskia meyakinkan saya bahwa we can change the world through education, mimpi Saskia untuk memberikan free accounting/economic class for underprivileged students, membuat saya tertampar sekaligus belajar banyak loh. Saskia masih percaya sama generasi muda kita. Saat saya cuma bisa nyinyir sama anak SMP yang jadi selebgram, Saskia udah jadi pendidik aja buat mereka.

Terima kasih, Saskia!

Saskia anaknya gampang terharu, dikasih kaya gini pasti “Ya ampun makasih, De!”

Ah padahal nanti Sabtu juga ketemu 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s