How to deal with grief?

If someone ask me that question, my answer will be: I. DON’T. KNOW.

I think it will always be a roller coaster for me, full of ups and downs.

image

Setelah kehilangan ibuku di dunia ini (tapi engga dong di hati aku mah, tetep ada kok ibu maah), aku menciptakan teori sendiri. Bahwa kehilangan itu akan terasa setelah setahun lebih, karena sebelum satu tahun berlalu, yang aku rasakan hanya orang tersebut sedang berlibur ke tempat lain dan akan kembali suatu saat. Namun, saat ia tidak kembali lebih dari satu tahun, saat aku tidak tahu bagaimana kabarnya, saat aku tidak bisa melihat dan mendengar suaranya, juga saat aku tidak bisa menyentuhnya, disitulah kehilangan dimulai dan dsitulah kehilangan berhak untuk dirasa.

Sayangnya,

Ternyata aku tidak menjadi lebih pandai menghadapi kehilangan kali ini. Kehilangan tetaplah sakit rasanya, padahal sudah dua kali aku rasakan. Di awal kehilangan aku menahan tangis mencoba mengingatkan diriku “Ih, apasih pake nangis segala, udah pernah juga”, tapi sepertinya aku harus meruntuhkan teoriku sendiri. Aku tidak tau bagaimana caranya berhadapan dengan rasa ini dan aku tidak seperti yang aku kira, aku tidak sebegitu kuatnya, aku tidak menjadi lebih pandai, aku tetap merasa sakit.

Tapi, kalau aku harus menjawab pertanyaan itu untuk diriku sendiri, aku mau nurut kata ibu aja, terima sakitnya, walaupun the end is always the same: I cry and I realize the pain won’t go away every time I see your face, and it means everyday. Aaaaand yes, I feel sad (everyday) and I should keep myself busy (everyday) if I think sadness has controlled me. Jadi, ini adalah beberapa daftar yang bisa dicoba to keep yourself sane (kalo kamu sedang menderita apa yang aku derita).

Menghadapi kesepian.

Hal ini aku rasakan ketika aku sedang sendirian di mobil atau di kamar. Ketika aku sadar bahwa Bapak tidak berada di sampingku lagi, aku menangis sambil mengingat-ingat memori bersama Bapak. Setelah itu dengan dramanya aku sedih lagi karena aku benar-benar sendirian karena merasa Bapak licik, kok udah pergi aja. Kalau udah kayak gini, apa yang kulakukan?

1. Telepon siapa aja yang bisa di telepon- bisa kakak atau temen, walau kadang aku ga enakan untuk nelepon malem hari, tapi aku selalu yakin aja aku berhak untuk mengganggu malam mereka. And yes ternyata “hari ini ngapain aja?” will be a very good question bagi aku yang kesepian ini. Akan lebih menyenangkan kalo temennya termasuk tipe temen yang mure alias gampang diajak kemana-mana, jadinya bisa pergi makan, ngobrol, nonton. Tapi kalo gabisa diajak pergi juga gapapa sih, main Fam100 aja di Telegram udah seru. Intinya, jangan nunggu disamperin atau dihubungin duluan, gapapa kok kamu yang duluan, buang gengsinya, akuin bahwa kamu emang butuh mereka.

2. Express yourself. Aku sih sukanya nyanyi sambil goyang-goyang (iya, goyang, bukan ngedance), doodling, dan kadang nulis ga jelas (tulisan ini adalah contohnya). Ada satu hal lagi sih, tapi ini kalau aku bener-bener lagi kurang kerjaan terus sedih ya: aku suka ngomong sendiri, suka sok-sok jadi penyiar radio, masang musik, terus ada yang rikues, terus puter lagunya, terus baca wikipedia tentang lagunya. Kayak orang bego tapi ya bodo amat yang penting rame kamarnya. Ada lagu, ada yang ngomong, jadinya ga sepi.

Menghadapi kelemahan.

Aku tuh lemah, literally. Aku bukan cewe kuat yang bisa ganti galon. Dulu, waktu Bapak masih ada, masalah fisik kek ngangkat-ngangkat barang gitu suka dibantuin, makanya waktu Bapak sakit kita nangis barengan karena aku gak bisa angkat Bapak yang berat dan Bapak gak bisa bantu angkat dirinya sendiri karena udah gak kuat bangun dan kasian sama aku. Untuk menghadapi kelemahan ini aku mulai berolahraga lagi, sekarang udah gak ada Bapak yang bantuin ini itu soalnya, aku harus bisa sendiri.

Katanya kan “Orandum Est Ut Sit Mensana Incorpore Sano.” Marilah kita berdoa semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat pula jiwa yang sehat. Aku berusaha banget untuk bisa kuat, goal ku minimal di akhir tahun aku udah bisa angkat galon sendiri. Goal yang begitu cupu tapi biarin aja, masalahnya aku buka pintu ATM aja suka kejepit gitu, gak kuat 😦 Intinya, biasanya orang yang berduka kadang fisiknya juga jadi lemes, ada masa dimana mereka lupa olahraga karena ga mood dan sedih terus, nah itu jangan sampe keterusan lemesnya, soalnya kalo lemes dan lemah, malah kita yang rugi sendiri. Aku aja nyadar aku harus olahraga lagi saat galon habis dan bingung gantinya gimana.

Menghadapi kejombloan.

Dulu, waktu ada Bapak dan Ibu, aku melakukan apa-apa itu selain untuk diriku sendiri juga sebagai persembahan untuk mereka. Aku semacam punya alasan untuk bikin sesuatu supaya mereka nonton, bisa liat, aku pengen pamer ke mereka kalian tuh keren loh ngebesarin aku jadi kaya gini. Tapi, setelah ga ada mereka, ini nih yang bikin rusuh jiwa raga jadi bingung mau pamer ke siapa, mau bagi-bagi rasa sayang ke siapa.

Saat semua orang senam hamil, aku masih aja sendirian, dan makin watir adalah saat liat kartu keluarga yang cuma ada namaku sendirian. Sampe aku tanya ke kelurahan “Pak, yakin ini kartu keluarga namanya bisa sendirian?” bapaknya bilang “Bisa neng! Ini asal jangan lama-lama aja atuh neng, sok segera disahkan atuh neng.” Aku cuma bisa senyum aja, nanyanya cuma itu doang, jawabannya pake ditambahin segala. Tapi ini kayanya bisa jadi teori lagi sih: ketika kamu yatim piatu dan belum nikah, seluruh orang keknya pengen kamu cepet nikah, biar ada yang jagain katanya. Ya mau sih nikah, tapi sama siapa ya ini? Orang-orang tuh hobinya nyuruh, bukan ngebantuin sih (sewot sendiri).

Kalo udah rungsing kaya gini, aku biasanya nonton korea, banyak banget yang baik-baik disitu, terus suka bikin deg-degan sampe ke hati kemudian udahannya solat hajat minta jodoh. Ini serius, bukan berarti aku jomblo dan enjoy jadinya aku ga usaha. Aku usaha kok, walaupun itu bukan gerakan ngegas cowo dan cuma minta jodoh ke Tuhan. Untukku yang bisanya ngomong doang soal cowo dan bingung berkeliling-keliling kalo di message sama cowo yang potensial, minta jodoh ke Tuhan itu termasuk usaha. (Pengumuman: untuk yang merasa jodohku, sini yuk marilah kemari –taunya ga ada yang ngerasa :()

Dan bagaimana cara menghadapi someone who is grieving? (How to deal with me)

1. Di hari meninggalnya seseorang yang dia kasihi, simpan dulu janji-janji manis seperti “Gue bakalan ada buat lo kok, telepon gue aja kalo butuh”. Mending langsung bawain makanan ada aqua gelas sedus, untuk tetangga-tetangganya yang takziah, bantuin atur kursi dan hal-hal lain yang lebih teknis. Ini terbukti (setidaknya bagi aku), saat aku melihat Ane bawain kue untuk tetanggaku, Silat bawain aqua dus, Chabsy angkatin keranda Bapak dari rumah-mesjid-rumah. Oh iya, orang yang kehilangan biasanya suka sibuk nerima tamu sampai lupa makan. Siapin atau beliin makanan untuk orang yang berduka itu yaaa.

2. Di hari-hari selanjutnya, orang yang berduka bisa banget tiba-tiba nangis karena inget sekelibet tentang orang yang meninggalkannya. Saranku, cari kata lain selain “Udah atuh, jangan nangis terus.” atau “Time will heals” No, no, no, menurutku, kehilangan itu akan terus sama sakitnya. Ini fase hidup yang harus dijalanin berulang kali dari mulai kakek, nenek, om, tante, bapak, ibu, nanti mungkin suami atau anak sendiri. Mending dengerin aja kalo dia curhat dan kasihin tisu sambil bilang “Itu ingusnya kemana-mana ih” nanti juga dia malu sendiri terus bisa tenang.

3. Jangan jadi tabu buat ngobrolin orang-orang yang kamu masih punya tapi dia engga. Contohnya, jangan jadi tabu ngomongin orang tua di depan aku. Yang harus dikontrol adalah momennya pas aja. Toh kita kan teman, ngobrolnya bisa macem-macem. Pinter-pinter aja ngadepin reaksi orang yang berduka, soalnya mereka secara emosional itu suka ga jelas (mereka apa aku ya haha). Walau ga jelas, inget-inget aja mereka itu masih berfungsi sebagai manusia dan sebagai temen, jadi gapapa banget ngajak temen yang berduka main di H+3 (misal nonton atau makan keluar), tapi malemnya jangan lupa bantuin tahlilan atau dateng tahlilannya (kalo ada). Intinya sih, pahami mereka yang kehilangan tapi jangan anggep mereka itu bakalan ga normal karena kehilangannya.

Jadi, kehilangan itu menurutku adalah fase dimana kita akan merasa sakit dan itu akan terjadi berulang kali karena kita memiliki kemelekatan dengan orang-orang sekitar kita. How to deal with it? Ya terima sakitnya, tapi jangan biarin sedihnya ngontrol hidup kita terus kitanya jadi ga semangat, jangan lupa juga siap-siapin semuanya (jiwa dan raga) karena itu bakalan dateng lagi entah kapan waktunya dan siapa orangnya. Don’t forget to be happy aja setiap hari, you deserve happiness kok 🙂

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s