#racaukacau: The Unspoken Love

Tulisan ini dibuat untuk menyambung tulisan Ita mengenai lebih pilih cinta yang tak terungkap atau yang tersesat kemudia menemui jalannya? Berikut aku kutip tulisan Ita, sebelum aku masuk ke pendapat pribadiku.

image

Obrolan lewat tengah malam memang tak jarang diselipi oleh racau kacau. Setidaknya hal itu berlaku bagi saya dan dea hampir selalu. Racau kacau pagi ini berawal dari pembahasan kami atas sebuah drama korea yang baru-baru ini kami ikuti. Seorang wanita berusia 38 tahun menghabiskan 18 tahun sebagai ibu rumah tangga tanpa kegiatan apapun selain menjadi ibu rumah tangga yang “baik”. Ia berada pada titik dimana pernikahannya dalam kondisi jenuh dan telah sepakat untuk bercerai dengan suaminya ketika anak mereka masuk universitas. Pun suaminya sudah lama lupa alasan mengapa ia jatuh cinta pada istrinya hingga pada sebuah kesempatan sang suami secara tidak sengaja menyaksikan kembali sang istri di atas panggung untuk menari seperti halnya pada pertemuan pertama mereka dulu. Namun, dalam drama ini teman pria sang istri yang memendam rasa suka sejak SMA hadir dalam kejenuhan pernikahan  yang sudah di ujung tanduk. Jika sang suami selama 18 tahun memaksa sang wanita untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, teman pria ini lah yang mengingatkan kembali sang wanita tentang aspirasinya menjadi seorang penari. Saya dan Dea kemudian berdebat tentang siapa yang harus didukung: cinta yang tak sempat terungkap atau cinta yang sempat tersesat?

Saya mendukung cinta yang sempat tersesat. Sebagai seorang Panta Rhei-ism, saya percaya banyak hal terus berubah, omnia mutantur. Bahwa cinta bisa sedemikian kosong ketika yang tersisa hanyalah komitmen tanpa hasrat dan kelekatan adalah mungkin. Namun kurang tepat rasanya jika cinta yang kosong ini dianggal nihil. Sebab siapa yang bisa menduga kapan hati menemukan kembali jalan pulang. Hanya yang pasti ketika waktu itu tiba ia layak mendapat kesempatan lebih utama daripada cinta yang tak pernah diungkapkan. Tempora mutantur, nos et mutamur in illis.

Berbeda dengan Ita, kalau aku sih lebih mendukung cinta yang tak sempat terungkap, atau mungkin lebih tepatnya belum terungkap. Sepengalamanku, cinta yang tak terungkap biasanya ga akan selesai sampe orang itu ngungkapin ke orang yang dia cintai, dan kadang bisa aja cinta yang tak terungkap ini bentuknya lebih ke rela memberikan waktu, tenaga, pikiran buat orang yang dicintai secara tanpa sadar. Saat orang yang memiliki cinta ini menyadari bahwa dia telah memberi banyak, dia mengeluh menyesal, tapi yaudah rela-rela aja karena sebenernya dia emang pengen ngasih aja. Selain itu cinta yang tak terungkap tuh gak akan bisa terbalas karena ya kadang emang orang yang dicintinya ga nyadar kalo dia sedang dicintai. Intinya sih aku lebih pro sama jenis cinta ini karena lebih terlihat hanya memberi tak harap kembali, kembalian sih bonus buat si pemilik cinta ini dan kalo di model kano (salah satu model kepuasan pelanggan) kasih yang dibalas tuh bagai excitementdelighters.

Saat aku bilang aku lebih pro kepada teman-pria-tokoh-utama-yang-memendam-rasa-dari-SMA, Ita langsung bilang “berarti maneh lebih ke polar intimacy ya?”. Aku ga ngerti, Ita ngasih segitiga cinta gitu backgroundnya item, terus segitiganya ijo, di dalem segitiganya ada formula mengenai consummate love. Kata Ita, coba googling Stenberg Love Triangle, dan ketemulah gambar ini.

image

Gile ya ada orang niat ngebagi-bagi jenis cinta sebanyak ini. Kalau diliat sih consummate love adalah bentuk cinta yang paling ideal, dibentuk dari intimacy, passion, dan commitment. Aku sendiri karena anaknya gemesan, banyak nonton sinetron lebih suka sama yang berunyu-unyu gitu, yang penuh intimacy, memberi. Tapi, balik lagi ke bahasan di atas, aku pilih lelaki pemilik cinta tak terungkap karena kegemesan pribadi aja, walau gak akan bersama, setidaknya dia harus mengungkapkan bahwa dia sayang wanita dulu, atau mungkin ternyata sampai sekarang. Bilang aja dulu plisssss (gemes). Siapapun nanti yang di jalan ceritanya berhasil mendapatkan hati wanita-berumur-38-tahun ya berarti dia yang otaknya sejalan dengan writer drama ini haha.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s