Sabtu Bersama Bapak

image

foto nyolong dari instagramnya teteh

Sekitar beberapa bulan yang lalu aku baca buku ini, bacanya di rumah teteh, abisnya teteh anaknya laporan banget kalo ngapa-ngapain, waktu itu katanya teteh hadir ke acara parentingnya adhitya mulya dan juga ngobrol-ngobrol tentang buku ini. “Mana sok buku sabtu bersama bapak teh?” kataku waktu aku liburan di rumah tetehku, tetehku nyodorin jam 10 malem sambil bilang, “jangan diabisin malem ini.” paham banget kebiasaanku ngabisin novel dalam 2-4 jam aja. Dan iya aja, abis.

Sabtu Bersama Bapak menceritakan tentang Bapak yang udah meninggal tapi penuh perhitungan untuk membesarkan anak-anaknya, Ibu yang sabar setia dan sayang sama anak-anaknya, juga 2 anak laki-laki bernama Satya dan Cakra. Satya ganteng dan udah berkeluarga, Cakra digambarkan agak gendats jomblo namun cemerlang dalam karir.

Bapak meninggal saat umur Satya dan Cakra masih muda, karena penyakitnya. Bapak yang udah tau dia bakal mati jadi ngerekam-ngerekam nasehatnya gitu deh mengiringi kedewasaan Cakra dan Satya, kek ini video boleh ditonton kalo anaknya udah umur tertentu, tiap naek umur bapak selalu nasihatin gitu, mereka nonton videonya tiap sabtu, sampe akhirnya pada gede, videonya diconvert trus masukin harddisk, terus kalo anak-anaknya kangen ya tinggal puter video nasihat bapaknya.

Satya kerjanya jadi orang geofisika gitu di Denmark (jadi pengen), karirnya bagus, anaknya 3, istrinya cantik, tapi Satya tempramen gitu anaknya, suka maramara, jadinya dia sama istrinya sering berantem lewat telepon gitu, mana jarang ketemu lagi, uu sedihchan. Konfliknya di sekitar guncangan rumah tangga Satya dan Istri.

Sedangkan Cakra diiumur 30, udah jadi manajer, punya rumah, punya ini punya itu tapi gak punya pacar 😦 sedih. Konfliknya seputaran Cakra cari pacar aja, sama Ibu Itje sakit tapi gak bilang ke anak-anaknya, takut pada khawatir.

Buku ini aku rekomendasiin buat yang suka dengan semua kebaikan di dunia ini, sederhana, kalimat-kalimat yang dipilih Adhitya Mulya untuk menjadi dialognya Bapak, Ibu, Cakra, dan Satya, super menginspirasi, quote-able banget.

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adaik-adiknya, tapi tugas orang tua kepada semua anak”

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain” 

Dan masih banyak quotes lainnya yang wow-keren-sekali.

Kalo harus nyari kekurangannya engga ada sih, fiksinya emang fiksi, too dreamy sih memang, umur 30 udah punya rumah, that’s one of a kind banget, ibu itje punya 8 restoran, that’s one of a kind too. Banyak hal-hal lainnya yang dreamy, tapi ya namanya juga fiksi. Fiksi yang emang seleraku. Haha sebel ga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s