ya mungkin ini.

umur 23 tahun adalah umur yang tepat untuk galau menentukan akan kemana melangkah selain ke pelaminan. pelaminan pun sebenernya merupakan sebuah pilihan sih. cerita ku kemarin mengenai hal yang sering kutanyakan pada diriku sendiri (‘terus apa? terus kemana?’) mungkin sedikit-sedikit sudah bisa terjawab.

sedari dulu aku sangat mencintai televisi, mencintai pertunjukkan, mencintai cerita, dan mengapresiasi seni. aku ikut les murattal (baca quran yang ngeliuk-ngeliuk gitu deh), aku ikut di grup kabaret SMP-ku, aku dengan gak tau malunya nyanyi I Will Fly-nya ten2five di depan kelas, sesegitunya dengerin radio ampe nyamperin Vhe & Fitrop waktu mereka masih siaran di Ardan, seneng parah kalo ada liputan ke SMA terus disuruh bikin yel-yel SMA (what the banget tapi seneng), jadi MC angkatan berdua sama Febia, tapi lama-lama aku kepengen pengen bikin pertunjukkan ini, pengen bikin pertunjukkan itu, aku kepengen ada di belakang layar, kesenengan jadi panitia. waktu Nyoman bilang SMA-ku akan ngadain pentas seni yang temanya sejarah sekolahku ditambah konsep medieval aku kesenengan (padahal baru konsep doang). dikampuspun aku ikut Liga Film Mahasiswa tapi tertarik ke bidang pertunjukkannya yang ngurus Bioskop Kampus, hobiku nonton konser, tapi bukannya ikut nyanyi eh aku malah sotoy bilang ‘ini kok kayaknya konsepnya kurang mateng?’ ‘ini lightingnya agak gimana deh’ ‘ini gitarisnya kurang aksi panggung’ ‘wah ini bagus banget, bisa sih aku ikutin terus kalo ada performance selanjutnya’ SOTOY BANGET. tapi yaudah ga ngefek kemana-mana sampai akhirnya ada seseorang yang menawarkan ‘De, urusin kebutuhan Secondhand Serenade ya’ ‘De, jadi showdir Sungha Jung, ya!’ terus aku dengan kapasitas 0 besar pengen banget tapi merasa masih bego.

aku ga nyangkal sih aku mencintai dunia pertunjukkan. sangat. tidak. menyangkal. aku mencintai industri k-pop karena di Asia mereka rapi, walau tentu ada beberapa masalah (mungkin nanti suatu saat aku akan ngepos mengenai hal ini). tapi… aku belajar teknik. tentang pabrik, tentang inventori, tentang produk, tentang manajemen rekayasa industri, tapi lagi… aku entah kenapa tidak begitu menggebu-gebu untuk masuk perusahaan yang sangat meng-industri. temen-temenku banyak yang jadi konsultan, analis, banker, kerja di perusahaan oil&gas, dan bahkan keluar negeri sengaja untuk mempelajari lebih dalam mengenai rekayasa industri.

meanwhile aku…

aku juga mulai mencari sih. tapi tetep yang lebih cocok ya disini. yang sesuai passion ya yang gini-gini, yang berhubungan dengan pertunjukkan, panggung, musik, dan seni peran.

ya mungkin ini sih.

mungkin aku emang seharusnya disini, bersama sembilan temanku yang lain, bermimpi dan sedikit-sedikit mewujudkannya. iya, emang bikin start up itu adalah sesuatu yang sedang menjadi tren di Indonesia, dan aku kebawa arus karena kepengen kebawa. karena bagiku bukan suatu kesalahan suatu lulusan S2 bekerja di industri hiburan, industri yang di teknik industri pun ga pernah dipelajari.

sedikit doa dari aku & teman-temanku, semoga dengan kehadiran kami, indonesia akan mendapatkan hiburan yang lebih baik lagi.

image

Doanya dibawa umroh depan ka’bah siapa tau Tuhan mengizinkan kami. Amin.

(mencoba signature baru)

Salam hangat,

Line Producer

Dea Chandra Marella

dea@merchantofemotion.com

www.merchantofemotion.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s