Habibie dan Ainun (2012)

image

Setelah menonton Life of Pi sebagai eksperimental nonton-tanpa-baca-bukunya-dulu, kali ini aku memberanikan diri untuk menonton Habibie dan Ainun yang selain dimotivasi oleh Aa Reza Radian, juga dimotivasi oleh rasa penasaran menggebu-gebu karena belum sempat baca bukunya.

Adegan dimulai pada tahun 1952 (kalau tidak salah) dimana Ainun dan Habibie masih di bangku SMA. Saat itu Ainun menjelaskan tentang ‘Mengapa langit berwarna biru?’ dan sosok Habibie muda di sebelahnya. Linimasa dari film ini bergerak maju dan menggambarkan perjalanan hidup dari seorang Habibie dan tentunya, his white sugar, Ainun.

Di awal film aku agak terganggu dengan iklan. Krik. Film ini disponsori oleh beberapa produk seperti produk make-up, snack coklat, dan sirup. Bagiku gak masalah sih ada sponsor, cuma aku agak gimana gitu saat snack coklat itu bertengger di atas meja di tahun yang aku pun belom lahir. Terus saat Pa Habibie mau ke Bandung kalo ga salah ada plang e-toll di deket gerbang tol.. e-toll lahir kapan filmnya settingnya kapan. Selain iklan, animasinya kurang memuaskan (maafkan aku yang baru saja terpuaskan oleh visual dari Life of Pi), ada pesawat terbang di awan terus kayak film tahun 90an, dimana kalo dibandingin sama film luar jauh banget, yaa.. deket-deket Hafalan Shalat untuk Delisa sih animasinya, terus ada lagi animasi salju. Itu susah banget buat diterima sama hati, tapi karena ceritanya SANGAT BAGUS DAN MENGENA (sampe aku capslock) hal itu bisa dilupakan selupa lupanya lupa.

Tapi terlepas dari itu semua, film ini mengandung berbagai cerita yang sangat aku suka. Cerita tentang bagaimana menjadi seorang yang sangat pintar dan merasa patah hati saat ternyata kepintarannya lebih dihargai di Jerman, cerita bagaimana hidup menjadi orang yang memiliki cita-cita kembali ke ibu pertiwi dan mengabdi padanya namun bangsa tidak mempercayainya, cerita tentang kejujuran dan prinsip hidup, cerita tentang kesetiaan dan definisi teman hidup, cerita bagaimana menjadi istri yang baik, peduli, dan nurut kepada suami, cerita kekecewaan terhadap ketidakyakinan bangsa terhadap anak bangsa sendiri, dan tentunya cerita tentang cita dan cinta yang tidak terpisahkan oleh kematian.

Bukan Dea namanya kalo gak bicarain aktingnya Reza Rahadian. Di film ini Reza memerankan tokoh Habibie yang saat di awal film aku kurang biasa liat dia bergaya seperti pak Habibie dengan mimik yang menurutku sangat menggambarkan Pak Habibie. Dia berjalan, berbicara, bahkan bergerakpun mirip Pak Habibie, beda sekali dengan Remi, Kakang, atau bahkan Ocid. Kemampuan akting Reza menyedot perhatianku. Apalagi saat Reza kurang tidur saat jadi presiden, keliatan banget capeknya jadi presiden.

By the way, aku suka banget sama wardrobe yang dipakai sama Habibie dan Ainun. Suka sama kacamata yang dipakai Bunga Citra Lestari saat event penerbangan pertama pesawat Gatotkoco, suka sama dasi kuning motif pesawat saat Habibie dan Ainun berdua di dalam hangar, dan suka sama sweater yang dipakai saat Ainun ulang tahun.

Satu hal yang menarik dari film ini adalah adanya video-video dokumentasi yang memperlihatkan bagaimana pesawat pertama buatan Indonesia di terbangkan, kerusuhan 1998, dan juga beberapa video lain yang bikin aku WOW. Ternyata bukan SM dengan film I AM-nya aja yang bisa nyatu-nyatuin video dokumentasi dengan film aslinya dengan baik, tapi Habibie dan Ainun juga bisa dan pelibatan video ini cukup membangkitkan memori pada tahun tersebut.

Suara seperti Pak Habibie di film ini adalah faktor yang sangat khas dan pada saat suara asli Pak Habibie keluar di scene terakhir menyatakan “… saya melangkah bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun” serta kelanjutan puisi indah di atas akan membuat kamu menangis. Ini pertama kali dalam sejarah aku nangis dan belum selesai di akhir film sampai lampu bioskop nyala dan credit title selesai.

Kalau banyak orang yang bilang “Kita akan saling mencintai sampai kematian memisahkan”, ini tuh “Kita akan terus saling mencintai walau kematian memisahkan” dalem banget rasanya.

Berikut aku kutip sedikit kalimat dari Pak Habibie:

Untuk Ainun

Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun yang lalu

Dengan ucapan Bismillahirrahmaanirrahiim saya melangkah

Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun

Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri

Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis

Membangun Keluarga Sejahtera, Damai dan Tenteram, Keluarga Sakinah

Tepat jam sepuluh pagi limapuluh tahun kemudian di Taman Makam Pahlawan

Setelah membacakan Tahlil bersama mereka yang menyayangimu

Saya panjatkan Do’a untukmu, selalu dalam lindunganNya dan bimbinganNya

Bersyukur pada Allah SWT yang telah melindungi dan mengilhami kita

Mengatasi tantangan badai kehidupan berlayar ke akhirat dalam dimensi apa saja

Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai akhirat

Habibie

Bacharuddin Jusuf Habibie

Taman Makam Pahlawan

Kalibata, Jakarta

Jam 10:00, tanggal 12 Mei 2012

——-

XOXO, Dea yang merasa dirinya lemah karena nangisnya lebay banget ampe sekarang ngetik aja masih nangis inget scene-scene-nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s