Postcard from the Zoo (2012)

haha ini gambarnya dipoto dari poster yang ditempel di dinding kamar

Lana (Ladya Cheril) adalah seorang anak yang gak tau gimana ceritanya bisa ketinggalan di kebun binatang. Lana ketinggalan karena pengen megang perut jerapah. Akhirnya Lana dibesarkan oleh seorang pelatih jerapah di kebun binatang. Lana hobi main-main sama segala binatang yang ada di kebun binatang. Lana bak raised by the zoo gitu deh.

Kebun binatang merupakan tempat umum yang semuanya bisa masuk-keluar. Fakta mengenai kebun binatang yang dijadikan tempat tinggal liar juga ditampilkan dalam film ini. Salah satu orang yang menetap sementara di sini adalah seorang koboy yang bisa sulap (Nicholas Saputra). Lana terkesima dengan pria ini karena dia bisa menunjukkan apa yang Lana tidak tau.

Lana di ajak keluar dari kebun binatang sama koboy ganteng. Melihat apa yang ada di balik pagar kebun binatang. Lana menjadi asisten sulap koboy ganteng itu dan juga membantu koboy menjual barang dagangannya. Koboy dan Lana mempertunjukkan sulapnya di suatu panti pijet ples ples dan ternyata bikin tertarik yang punya panti pijetnya.

Lana mendapatkan banyak pengalaman ketika ia keluar dari kebun binatang, merasakan apa yang sebelumnya ia tak pernah rasakan. Mungkin tersirat sedikit rasa cinta dan kagum pada si koboy.

Suatu hari koboy mencoba menyulap dirinya sendiri. Namun sedihnya, Koboy ternyata menghilang dari kehidupan Lana. Di sini Lana belajar kehilangan. Kehilangan orang yang ia kagumi.

Lana tidak tau harus kemana sampai akhirnya ia digiring bekerja di panti pijet itu. Tidak lama kemudian, Lana seperti terarah kembali ke kebun binatang untuk menjalani kehidupannya.

Mungkin kurang lebih (ya pasti kurang sih) gambaran tentang cerita Lana seperti itu.

Pengambilan gambar binatang-binatang di film ini menurutku cukup menyuasanakan kebun binatang di Indonesia (haha emang di indonesia sih, dey!). Binatang-binatang disyut deket tuh bikin deg-deg-an natural banget.

Filmnya ga banyak dialog. Lebih banyak main di pengambilan gambar-gambar gitu. Apalagi dialog-dialog cheesy yang aku harapkan. Dalam beberapa menit sekali, Edwin sang filmmaker, membuat catatan-catatan tentang istilah seperti rumah, kembali, dan lain lain.

Aku tapi kadang suka aneh kenapa kalo di film yang menang festival gini suka ada aja yang telanjang jalan kesana kemari seakan semuanya tiada berarti. Kalo ga telanjang ada unsur begitunya deh.

Yang aku suka dari film ini adalah di adegan awal-awal Lana megang perut patuh jerapah dan tangannya gak nyampe, tapi pada saat dia kembali ke kebun binatang setelah perjalanannya di luar kebun binatang, dia bisa megang perut jerapah beneran.

Film ini seperti menceritakan RUMAH banget gitu. Atau mungkin manusia itu ga jauh dari hewan, dan perjalanan itu akan diakhiri dengan kembali. Ngasal sih.

Sebenernya kan ga ngerti juga ceritanya. Filmnya ga mainstream. Nontonnya juga bingung. Haha. Di akhir nonton film ada sesi Skype sama filmmaker-nya, Edwin. Tapi ya gitu ga memberikan jawaban film ini apa gimana gitu-gitu. Hahaha. Ini review hanya berasal dari pengetahuan seadanya dan sesotoynya Dea Chandra Marella.

xoxo,

Selamat menonton film-film yang menang festival!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s