mendiang republik.

Mendiang Republik – Teater Epik.

Nonton Teater Epik volume 4 rasanya beda banget dari teater Epik yang sebelumm-sebelumnya. Kali ini, selain tempatnya yang emang beda, settingnya pun beda parah syoobb. Mulai dari lighting, properti, bahkan tanah pun di atas panggung! Cool banget cool *maapin gue, anaknya emang kurang gaul, baru nonton yang beginian sekarang*

Teater Epik ini dibuat oleh Komunitas Epik yang dipelopori oleh beberapa anak SBM. Awalnya, mereka bikin majalah Epik. Gue lengkap dong punya dari edisi satu sampe lima. Yah walaupun sejujurnya ada beberapa artikel yang bahasanya ga gue ngarti. Tapi artikel-artikel lain menarik.

Menurut gue, seni pertunjukkan adalah media yang tepat dalam menyampaikan suatu pesan. Apalagi di jaman sekarang ini orang Indonesia makin sensi, kadang susah nerima opini atau pendapat seseorang. Teater juga merupakan sarana yang beda dari pada yang lain, dan poin plus-nya adalah, teater ini dilakukan oleh mahasiswa.

Mendiang Republik jumlah perannya lebih banyak daripada teater Epik vol. 3, jadi ada beberapa aktor dan aktris yang perannya double. Tapi, itu semua ga bikin peran yang satu lebih jelek dari peran yang lain. Aktor-aktrisnya berkembang dari teater epik vol.3 mulai dari akting, intonasi, dan penguasaan panggungnya.

Mendiang Republik menceritakan Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan. Scene yang paling lama adalah scene saat Indonesia udah merdeka. Di scene itu ada beberapa peran seperti mahasiswa, pedagang, preman, ustadz, anak gaul, dan juga banci. Bagian banci ini yang berhasil bikin gue ketawa ngakak parah syob! Belum lagi, aktor dan aktrisnya memahami peran mereka dan itu bikin penonton bisa nangkep maksud mereka apa. Kata demi kata yang dilontarkan oleh para pemain teater cukup mewakilkan apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Ditambah narasi yang dibawakan oleh pemeran kakek di Mendiang Republik ini bikin kita bisa menikmati perpindahan scene per scene.

Sebuah seni pertunjukkan emang ga jauh dari yang namanya musik. Kali ini, karena tempatnya juga gede, pemusiknya berdiri di panggung kecil sebelah panggung utama. Namun kadang musiknya terlalu kenceng dibanding yang ngomongnya sehingga percakapan yang ngomongnya kurang kedengeran.

Overall, menurut gue Epik berhasil membuktikan bahwa penyampaian kritik sosial bisa dilakukan oleh mahasiswa dengan metode baru yang disenangi masyarakat, yaitu berupa seni pertunjukkan berjenis teater. Terlihat dari banyaknya kalangan yang menonton teater ini, mulai dari anak kuliah sampe orang tua-pun ada disana.

Sukses terus untuk Epik!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s