partikel.

Partikel – Dewi Lestari (Dee)


Buku ini tebel. Halamannya banyak. Bahasanya bahasa Indonesia, tapi gua kaga ngarti. Dari awal supernova juga emang udah gitu sih haha. Guenya aja yang tetep keukeuh beli Supernova dengan kemampuan kosakata yang masih segini-segini aja.

Tokoh utama buku ini adalah Zarah, seorang cewek yang nyari ayahnya kemana-kemana karena dia percaya bahwa ayahnya tau segalanya. Ayahnya dulunya seorang yang taat agama Islam, tapi karena pinter banget, dia nyari-nyari lagi. Sampe dia percaya bahwa ada kekuatan jamur, udah gitu dia juga percaya UFO. Yah pokonya percaya sama hal-hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Berbekal dengan kamera limited edition, Zarah berusaha mencari ayahnya. Jadi volunteer ngejagain orang utan sampai akhirnya jadi fotografer di London dan terlibat kisah cinta dengan fotografer yang selingkuh sama sahabatnya sendiri. Haha kasian 😥

Kalo kita orangnya kurang open minded, atau misalkan kita Islam fanatik atau Kristen fanatik, atau agama-apapun-itu-fanatik, kita bakalan agak sebel baca Partikel. Dimana ada pandangan yang dilontarkan oleh Zarah tentang agama. Setengah setuju setengah engga sih, apalagi kalau pembaca adalah emang ‘lagi nyari agama’. Wah.. kalo engga nyadar Partikel itu fiksi, dia bisa jadi sumber ilmu yang kemudian bisa begitu aja dipercaya. Tentang UFO, tentang kekuatan jamur… eng… gimana yah. Bagus engga, jelek juga engga, lebih kepada gue-nya yang ngga ngerti.

Satu hal yang gue dapet dari Partikel adalah: Jadi manusia jangan sombong, jadi manusia harus bersahabat dengan alam, seperti tumbuh-tumbuhan, tanah, udara, air, dan sebagainya. Intinya, ya makhluk hidup itu bukan manusia aja di dunia ini. Manusia punya peran, tumbuhan punya peran, hewan juga punya peran.

Keterampilan Dee mengolah kata, membuat yang sederhana seakan-akan rumit dan cerdas banget. Dee lebih memilih kosakata asing (yang gue dikit2 cek pake KBBI online -_-“) ketimbang kosakata sehari-hari. Tapi menurut gue itulah ciri khas Supernova. Beda dengan Perahu Kertas yang bahasanya lebih enak dicerna (karena sebenernya tipe2 keberterimaan otak gue akan suatu novel emang mentok segitu, hahaha).

Overall, novel yang dibuat sampe 8 taun ini bagus sih kayaknya, cuma kalo dibandingin sama Supernova lainnya, gue paling suka Petir, lebih ngakak soalnya. Gue anaknya demen ama yang lucu-lucu ketimbang yang serius-serius gitu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s