rumah cokelat.

Rumah Cokelat – Sitta Karina.

Buku ini agak berbeda dari buku-buku sebelumnya, karena gue ngikutin banget tulisannya Sitta Karina semenjak dari bangku Sekolah Menengah Pertama. Tulisan Sitta Karina yang gue baca pertama kali adalah Lukisan Hujan. SUMPAH! Dengan otak anak SMP yang mampunya nalarin novel2 cem Dealova dan Me vs High Heels, gue sok2an baca buku Lukisan Hujan yang cara nulisnya beda banget sama Teenlit2 terbitan gramedia (yang ada cap cewe baca buku kakinya di silang ke atas) yang sering banget gue beli.

Tulisan Sitta Karina tuh beda. Ceritanya biasanya tentang kaum2 jetset yang pake baju brand ini lah, makan disinilah, parfumnya inilah, sepatunya itulah, nongkrongnya di sini lah, dan segala hal2 yang berbau kekayaan serta perusahaan keluarga Hanafiah itu. Sampe gue kadang bingung sendiri, ini Sitta Karina idenya dapet darimana… Yang bikin gue ga habis pikir tuh bukan karena latar belakang tokoh-tokohnya, tapi cerita yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Orang kaya juga manusia, semacam itudeh gambarannya. Detiiiilll banget nyeritainnya. Bahkan kadang Sitta Karina nyelipin sketsa untuk mempermudah imajinasi kita pas baca buku. Tapi itutuh menurut gue udah deskriptif gitu. Suka banget gue. Lanjutlah gue baca karya Sitta Karina yang lain, kayak Kencana, Abel, dan Stilla Aria. Kalo serial Hanafiah sih gue lengkap, haha. Cuman gue sempet vakum gak baca buku pas masuk kuliah, soalnya udah mulai terdistraksi dengan Korea hahaha.

Alhamdulillah, kemarenan ada niat membangkitkan lagi semangat membaca buku, mau itu novel, atau novel, atau novel (HAHAHA gasuka buku lain soalnya selain novel). Sitta Karina baru ngeluarin buku, judulnya Rumah Cokelat.

Jadi, Rumah Cokelat ini menggambarkan cerita kehidupan rumah tangga. Tokoh utamanya wanita karir, yang mungkin semua cita-cita cewek jaman sekarang adalah menjadi wanita karir (tapi gue engga – sok2 anti mainstream). Gimana seorang ibu yang udah memiliki seorang anak mengatur waktunya antara anak, kerja, dan hobby. Ngasih tau kita banget nih para cewe untuk segera siap sedia, karena toh mau gak mau kita bakal mengalami masa itu. Masa dimana kita pasti rempong banget ngurusin anak. Pengen banget hangout sama temen2 kuliah atau SMA dulu. Semuanya digambarin Sitta Karina dengan sederhana tapi sarat makna.

Recomended untuk para cewek yang mau jadi wanita karir seumur hidup. Haha. Soalnya waktu itu gue pernah mentoring, isinya kurang lebih yah intinya:

Puncak karir seorang wanita adalah saat ia menjadi ibu.

Menurut gue sih bener banget! Bukannya mendukung sepenuhnya kerjaan jadi full time mother dan ngebiarin suami aja yang cari nafkah ya. Tapi in order to be a full time mother for our future kids, kita tuh harus pinter. Minimal kita punya skill yang bisa ngedatangin passive income. Supaya ya.. selain emang punya pendapatan sendiri untuk menuhin nafsu belanja (yah emang ini sih pada dasarnya) kita juga ga ngerepotin suami pengen ini pengen itu, terus anak2 juga tumbuhnya terkontrol dengan baik karena kita selalu ada ngedampingin mereka dalam pertumbuhannya.

Ehm, sorry nih ya malah ngelantur ngomongin anak padahal pacar aja belom ada (._. ) hahah *nebeng curhat*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s