Hafalan Shalat Delisa

Buku ini menceritakan tentang Delisa, anak perempuan berumur 6 tahun yang tinggal di Lhok Nga, yang berusaha menghafal bacaan shalat. Perjuangan Delisa untuk menyelesaikan hafalan shalat tersebut membuat gue sesenggukan mulai halaman 68 sampai halaman terakhir, 265. Bahasa yang digunakan Tere Liye dalam membuat novel ini membuat gue berasa banget ada di cerita tersebut sebagai si orang yang tau segala keadaan, sayangnya Delisa ga tau keadaan-keadaan yang gue tau. Gue membayangkan betapa anak sekecil itu, anak yang cantik, polos, baik, ceria, memiliki rasa keingintahuan yang besar, dan sangat sayang kepada keluarganya, memiliki kesabaran dan keikhlasan yang sangat besar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah. Latar belakang cerita ini adalah kejadian bencana alam tsunami di Aceh tahun 2004. Tere Liye bisa membawa pembacanya flash back ke kejadian tersebut dengan sangat baik, ditambah lagi foot note yang ia berikan di setiap kali Delisa tertimpa musibah dan merasakan sesuatu.

“Maha suci Engkau ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha besar Engkau yang telah menciptakan ada dan tiada. Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak ada punya dan mempunyai selain Engkau. Tetapi mengapa Kau harus menciptakan perasaan? Mengapa Kau harus memasukan bongkah yang disebut “perasaan” itu pada makhluk ciptaanMu? Perasaan kehilangan.. Perasaan memiliki… Perasaan mencintai…

Kami tak melihat, Kau berikan mata; kami tak mendengar, Kau berikan telinga; kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kau berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Jelas sekali, semua itu berguna! Tetapi mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bingkah perasaan yang seringkali menjadi pengkhianat sejati dalam tubuh kami. Mengapa?”

Entah karena gue emang lembek apa gimana gitu ya, ini adalah pertama kalinya gue nangis ga berenti-berenti baca buku, udah ga bisa bedain mana ingus mana air mata haha. Overall buku ini beneran deh bagus banget. Bagusnya banget-banget.  Ini buku bikin penasaran di setiap lembarnya, membuat pembaca bertanya-tanya. Ada apa? Mengapa Delisa tidak Kau ijinkan untuk menyelesaikan hafalannya?

“Semua kesedihan ini bahkan cukup untuk membuat panglima perang paling perkasa sekalipun tertunduk menangis…. Semua kesedihan ini. Semua perasaan ini. Sayangnya, ketahuilah duhai penduduk bumi, kesedihan tidak mengenal derajat kehidupan yang diciptakan manusia. Kesedihan hanya mengenal derajat kehidupan yang Engkau tentukan. Kesedihan tidak pernah berkolerasi dengan standar kehidupan yang amat keterlaluan cinta dunianya. Kesedihan hanya mengenal ukuran yang Engkau sampaikan lewat ayat-ayatMu. Kesedihan seseorang sungguh seharusnya boleh jadi kegembiraan baginya. Kegembiraan seseorang sungguh boleh jadi hakikatnya kesedihan terbesar baginya. Tapi hakikat itu, hanya untuk orang-orang yang berpikir…”

Beneran yah ini buku bikin gue malu dan cemburu sama Delisa. Ini anak sekecil itu tapi hatinya lapang banget. Delisa pernah marah sama Allah tapi setelah itu Delisa langsung menangis, menyesali perbuatannya. Delisa sepertinya kenal betul siapa tuhannya. Delisa paham apa arti “karena Allah”. Lah gue, udah umur segini kadang masih ragu mana yang dibenci Allah mana yang engga. Padahal sebenernya udah tau, cuma guenya aja yang banyak nanya. Buku ini sangat menginspirasi. Beneran deh buat lo yang gatau liburan ini mau ngapain, gue saranin baca buku ini. Gapunya bukunya? Gue pinjemin deh asal dibalikin haha.

Nah, mungkin saking bagusnya buku ini, jadi dibuatlah filmnya. Dari buku ke film emang kadang ga sesuai-sesuai banget sama buku. Dibukunya gini, difilmnya gitu.

Alur cerita di film ini sesuai sama bukunya, walau kadang dibeberapa part ada yang ga sesuai sama buku. Tapi, nonton film ini gabisa pake mikir banget. Kalau pake mikir, gue sebagai orang yang suka nonton film bisa bilang animasi waktu tsunaminya atau animasi2 yang ngegambarin surganya, jauh dari yang diharapkan. Udah gitu, pengambilan gambar waktu kakinya Delisa ilang, agak2 kurang bagus, soalnya keliatan Delisanya masih punya kaki tapi dilipet. Hehe.

Untungnya, akting2 pemain di film ini bagus, apalagi Reza Rahadian. Wuih total deh emang ini aktor satu. Aktingnya doi bisa ngebawa kita sedih, emosi kita sebagai penonton ikut bergejolak gitu. Haha. 

Film ini gue rekomendasikan juga untuk ditonton, pesan yang ingin disampaikan dari film ini bagus banget. Tapi gue lebih merekomendasikan baca bukunya ketimbang nonton filmnya haha. Bukunya lebih emosional kalo dibandingin dengan filmnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s