tentang (lagi) drama korea

I warn you: this is a very long post and may contains spoilers

Bagi yang sudah kenal gue dan tau seberapa gue tergila-gilanya pada hiburan Korea pasti langsung maklum dan tau mengapa gue menulis ini. Bagi yang tidak tau seberapa gue tergila-gilanya pada Korea, akan gue biarkan kalian tau. Bagi yang tidak mau tau, tulisan ini tidak perlu dibaca. Bagi yang merasa gue lebay dan gue annoying silahkan pencet tombol bertanda (-) di pojok kiri atas.

Korea lagi Korea lagi.

Emang. Gimana lagi dong? Gue terlalu terlenanya sama hiburan Korea. Apalagi drama. Sebelumnya pengakuan dulu deh, harddisk berkapasitas 600GB tersayang yang gue miliki dan gue rawat seperti hamster lucu itu, 500GBnya terisi oleh hiburan Korea.

Pertama, gue mau bandingin dulu sinetron indonesia dan drama korea.

Sinema Elektronik Indonesia

Dulu, gue adalah penikmat sinetron Indonesia. Mau orang-orang ngejelek-jelekin Cinta Fitri-pun, gue tetep nonton Cinta Fitri.

Awal nonton sinetron gue baru menjejakan kaki ke Sekolah Dasar. Saat itu, sinetron Bella Vista adalah sinetron yang keluarga gue tonton. Seinget gue pemerannya adalah Venna Melinda. Gue mengikuti jalan ceritanya dari awal sampai akhir, dari Bella Vista 1 sampai Bella Vista 2. Namun entah mengapa sekarang gue lupa ceritanya kayak gimana. Judul sinetron yang “Bella Vista”-pun ga gue pertanyaan, padahal kalo sekarang ada sinetron yang judulnya kayak gitu, positif ga akan gue tonton. Kalo ketinggalan episode Bella Vista, gue selalu pinjem Laser Disc-nya di tempat sewa daerah Ujung Berung Indah (jaman gue SD entah kenapa gue ga kenal CD), sehingga Bella Vista-pun menjadi sangat membekas di hati.

Janjiku dan Noktah Merah Perkawinan (yang gue lupa judul aslinya apaan) adalah sinetron-sinetron yang OST-nya masih gue apal sampe sekarang. Kalo denger orang bilang “Janji” atau “Noktah”, hati gue langsung bernyanyi.

Setelah itu, gue jatuh hati pada sinetron Tersanjung. Dari mulai Tersanjung satu yang Rama-nya masih Ari Wibowo sampai ganti jadi siapaa gitu. Terus dari yang pemeran utama ceweknya Lulu Tobing, sampe diganti jadi Jihan Fahira. Dari Adam Jordan kagak ada kumisnya, lalu tumbuh kumis, lalu dicukur, lalu tumbuh lagi, dan sampai kumisnya beruban. Dari mulai mereka yang masih remaja, sampai akhirnya mereka jadi nenek kakek dengan tidak ada perubahan pada make-up wajah, hanya rambut mereka saja yang ditaburi bedak agar keliatan beruban. Dan entah dari kapan, tiba-tiba di Tersanjung kesekian ada Cut Tary dan Ibnu Jamil. Gue pun bingung.

Ada juga Sinetron Tersayang yang dengan jalan ceritanya yang super sweet, sukses membuat gue memiliki topi Tersayang juga membuat gue menghapal dance diakhir sinetronnya karena cewe yang nari-nari saat itu adalah Thessa Kaunang.

Ga cuma sinetron anak gede yang gue tonton, sinetron anak kecil cem2 Panji Manusia Millenium, Gerhana, dan Anak Ajaib pun gue babat. Sampai sekarang gue masih inget kalo Untung, pembantu di rumah si Joshua Anak Ajaib, sering manggil majikannya kayak gini “Pak Bernard, Pak.. Pak Bernard, Pak..”

Semakin gue besar, sinetron yang asalnya tayang tiap minggu berubah menjadi sinetron yang tayang setiap hari. Judul dari sinetronnya pun mulai singkat-singkat, setidak-tidaknya nama pemeran utama akan menjadi judul dari sinetron itu. Entah kenapa, gue udah ga ngikutin banyak sinetron, yang gue ikutin cuma tiga: Bintang, Melati untuk Marvel, dan Cinta Fitri. Udah.

image

itu yang nomer 9.. APAAN?

Sinetron Bintang yang diperankan oleh Allysa Soebandono sukses masuk daftar terimakasih tugas akhir mata pelajaran Biologi gue. ITU ENTAH KENAPA.

Semakin beranjak kemari, yang gue liat sinetron Indonesia makin ga niat. Pengennya sih tampil tiap hari, tapi visualnya ga memberikan kepuasan bagi gue. Bloopers yang makin keliatan. Contohnya: saat di dalam mobil, ada bayangan pohon di kaca mobil, tapi bayangan itu berulang terus, mobil selalu jalan lurus, beloknya kalo udah mau nyampe aja.

Dari sisi cerita, ga jauh-jauh dari ternyata orang tuanya bukan orang tuanya, ternyata dia anak yang tertukar, adegan hilang ingatan, adegan barang jatuh saat mendengar orang kecelakaan sambil berkata “Apa? Ya, saya akan segera kesana” padahal si penelepon belum memberitau lokasi kecelakaan dimana, adegan menyewa pembunuh bayaran, adegan kejahatan yang sangat jahat, adegan sekarat yang pasti batuk2 dulu sambil berwasiat, dan adegan ranjang yang cuma disyut palanya doang masih pake baju baringan bareng-bareng lalu kameranya pindah ke tembok atau langit, kemudian iklan. Iklannya lebih lama daripada sinetronnya.

Dari segi karakter, selalu ada si orang baik yang terjajah, selalu ada si orang jahat yang jahatnya jahat banget padahal alesan buat dia jahat ga terlalu kuat untuk menjadikan dia sejahat itu. Selalu orang jahat memiliki alis yang bisa mengangkat sebelah, selalu orang baik meminta tolong pada Tuhan dan tiba-tiba TADAAA! orang jahatnya ketangkep. Tapi ga semua kaya gitu sih.

Dari segi isi dan dampaknya. Menurut gue, sinya adalah cerita cinta. Saja. Dampaknya adalah gue kadang menghadapi sesuatu dengan gaya sinetron. Seperti berteriak “APPPPAH?” keras-keras saat mendengar gosip yang mengejutkan.

Bisa dikatakan, Cinta Fitri season 6 yang masih ditayangkan di SCTV adalah sinetron yang gue masih ikutin ceritanya karena kagok udah ngikutin dari awal. Gue berasa kecewa aja. Ga sama Cinta Fitri doang sih, banyak juga sinetron-sinetron yang tayang setiap hari lainnya. Ceritanya kadang belok, humornya agak gak nyambung. Pokoknya aneh deh.

Tapi, gue langsung semangat saat pertama kali nonton sinetronnya SM*SH, ya mungkin bukan sinetron sih, mini series lah ya disebutnya. Sinetron itu plot ceritanya jelas, pengambilan gambarnya niat, dialognya pasti, humornya nyambung, dan ada hubungan yang jelas antar karakter. Poin plus lainnya adalah sinetron itu hanya tampil setiap minggu saja. Disini gue ga bicara masalah skill akting pemainnya. Cuma ya gue berasa ada harapan aja kalo sinetron Indonesia bakal bangkit lagi dengan puguhnya.

Drama Korea

Awal nonton drama Asia adalah Meteor Garden. Saat SD, itu pun malem-malem banget dengan suara dubber yang saat gue sadari sekarang itu adalah fail berat. Setelah itu, gue menonton Full House, jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Rain. Jatuh cinta pertama kalinya pada setiap episodenya yang bikin ketagihan. Jatuh cinta pada karakter yang terlihat seperti bukan akting. Jatuh cinta pada kejelasan cerita. Jatuh cinta pada keadaan bahwa orang jahat memiliki alasan dan kadar jahatnya sesuai.

Setelah menonton Full House, tentu gue tidak ketagihan, gue tetap menonton sinetron indonesia, meneteskan air mata sedih saat Fitri ditindas sampai akhirnya meneteskan air mata sedih karena ceritanya makin ga jelas, kayak sengaja dipanjang-panjangin.

Saat SMP kelas 3, gue sempat menonton Boys Over Flowers dan lagi-lagi dibuat jatuh cinta oleh kehadiran My Baby Goo Jun Pyo. OH MY. LEE MIN HO! Si ganteng yang mirip banget sama Jerry Yan (yang sekarang Jerry Yannya entah pergi kemana). Ceritanya seru. Sederhana. Ga berjuta-juta episode. Cukup. Cukup bikin pengen punya pacar. Tapi gue belum ketagihan lagi.

Sampai akhirnya kuliah, saat pertama kali suka musik Korea. Saat mengenal ada idol group bernama 2PM. Saat mencintai Wooyoung dan Taecyeon dengan sepenuh hati. Saat berita mereka akan membintangi Dream High. Saat itu, gue dengan penuh kesadaran diri tenggelam akan drama korea. Habis Dream High, gue download drama-drama lainnya.

Karakter-karakter di drama korea kuat banget. Pemeran cowo yang di awal banget dari segi fisik ga ada ganteng-gantengnya, tiba-tiba bisa berubah jadi ganteng banget di tengah2 drama. Hyun Bin bisa bikin gue bergumam “Kim Soo Han Mo….” saat gue grogi. Yonghwa bikin gue deg-degan banget ditambah ada perasaan kupu-kupu kecil terbang di perut gue saat dia bilang “Aku mau kamu tetap menyukaiku” ke Gyu Won di Heartstring. Ini yang ditembaknya Gyu Won kenapa GUA YANG DEGDEGAN?

 

image

ADEGAN INI!

Entah kenapa gue merasa drama korea bikin gue belajar. Misalkan dari Paradise Ranch gue jadi tau sedikit ilmu-ilmu tentang peternakan, dari Can You Hear My Heart gue jadi tau ilmu tentang bisnis, dari Baby Faced Beauty tentang perusahaan fashion, dari Heartstrings tentang alat musik tradisional korea yang bernama Gayageum, dari City Hunter tentang ilmu bela diri (loh?)

Ya intinya gue belajar, walaupun dikit. Sepertinya sebelum membuat film mereka melakukan observasi dulu. Adegan yang ada di drama korea rasional. Gak ada tuh orang sekarat batuk-batuk sambil berwasiat.

Pesan yang disampaikan oleh dramanya juga bagus. Kebanyakan tentang meraih mimpi baik itu cita maupun cinta. Bahwa tidak ada salahnya menjadi miskin, tidak ada salahnya memiliki mimpi, tidak ada salahnya mencintai orang yang lebih tua, dan kehadiran konflik memang diperlukan dalam kehidupan.

Dramanya manusiawi. Emang ada di kehidupan kita. Sedihnya manusiawi juga, sampai gue ngabisin tisu banyak banget saat Lee Seung Gi dan Gumiho mengalami masalah, saat Prosecutor mati di tangan City Hunter. NANGIS AJA GITU. Bukan mata aja, hidung juga, dan hati sesek. Bisa banget deh ini emang drama korea.

image

Prosecutor tidak batuk-batuk saat mengucapkan wasiatnya, dia hanya terbata-bata.

Banyak hal positif yang bisa gue dapet. Apalagi bagian penyegaran mata saat melihat cowo cowo keturunan Nabi Yusuf itu. Haha.

Haha. Beneran panjang kan? Maaf loh yah kalo udah panjang-panjang begini tapi ga mutu. Cuma kesel aja gitu kenapa sinetron Indonesia ga bangkit-bangkit. Sedih ga sih, bulan Agustus itu harusnya lebih cinta Indonesia, tapi ini malah lebih cinta Korea.

XOXO,

Gadis yang siap menikah dengan Haji Muhammad Lee Min Ho.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s