hanya mengadu

Hari ini saya kebagian presentasi suatu mata kuliah umum. Dosen kami mempersilakan kelompok saya untuk maju ke depan. Kami maju, mempresentasikan makalah kami dengan yakin, dan memulai sesi tanya jawab dan diskusi.

Saat sesi tanya jawab, banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh teman sekelas kami. Kami berusaha menjawabnya semampu kami. Tanggapan dan sanggahan juga muncul. Bisa dibilang, diskusinya sedikit. Malah jadi lebih kearah debat. Kasarnya adalah ‘menjatuhkan’ argumen yang telah dibuat dalam bab ‘pembahasan’ makalah kami.

Saya akan menyoroti cara berkomunikasi kami saat diskusi. Entah mengapa secara tidak langsung saya melihat bahwa dalam setiap diri manusia terdapat satu sifat yang umum, yaitu tidak mau pendapatnya dianggap salah. Pembenaran-pembenaran atas apa yang telah diucapkan pun terlontar. Bahkan saya sendiri merasa seperti itu.

Sedikit dari saya tidak terima kalau ternyata pengetahuan teman saya yang lain (yang tidak membuat makalah tersebut) lebih banyak dari kami yang membuat makalah ini. Begitu pula dengan audiens, mereka telah memiliki pendapat mereka sendiri lalu menyampaikannya dan terasa seperti ‘harus’ diterima oleh seisi kelas.

Mengapa seperti ini? Wajarkah ini terjadi? Kejadian yang direncanakan adalah diskusi, tapi mengapa sedikit terasa defensif ya orang orang ini?

Diskusi pun berakhir dengan sindiran dosen yang saya rasa sarkas ‘Makalah ini tidak ada isinya, kalian kurang menggali dari segi teorinya, hanya berdasarkan pendapat pribadi saja’

Apa rasanya saat kamu sudah kerja keras menyusun dan mengerjakan makalah sampai jam 2 malam? Apa rasanya saat kamu bangun pagi dan ternyata terlambat untuk kampus lalu naik ojeg 20.000 kemudian ganti angkot 3 kali demi sampai cepat ke kampus untuk mengumpulkan makalah tersebut?

Sakit hati.

Tapi apakah dosen tersebut harus menyampaikan hal itu secara to the point? Haruskah seperti itu? Tidak adakah bahasa yang lebih halus? Atau generasi muda seperti saya ini sudah terbiasa ‘dimanjakan’ dengan kata2 pengingat yang halus sehingga saat sekali-kalinya mendapat kata-kata seperti itu saya sakit hati?

Saya tidak tau mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Yang saya tau hanya mana yang bikin sakit hati dan mana yang tidak. Namun rasa ke-saya-an saya bisa ditepis dengan cepat. Inisiatif dari teman sekelompok saya untuk merevisi makalah kami diterima oleh sang dosen.

Benarkah bahwa dalam setiap diri manusia ada perasaan ingin pendapatnya diterima oleh orang lain?

Bahwa apa yang saya lakukan sudah benar, namun jika ternyata tidak benar di mata Anda, saya minta Anda menghargai usaha saya untuk melakukannya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s