perasaan saya waktu itu sama kaya ita sekarang

pravitasari:

Kalo anak ini boleh cengeng dan labil, maka anak ini akan menangis detik ini juga. Tapi, anak ini gabisa labil apalagi cengeng. Gaboleh,euy..

Prolog yang gatepat mungkin. Tapi anak ini terlalu gasabar untuk bilang itu. bilang bahwa anak ini gabisa labil dan ngikutin emosinya gitu aja.

Anak ini sendiri gatau kenapa tiba-tiba dia pengen bilang. Bilang yang itu tadi diatas. Sore yang aneh dia pikir. Tiba-tiba aja pengen nguatin diri, ngeyakinin diri atas segala keputusan yang pernah diambil. Yakin kalo emang ini dan itu yang harus dia ambil. Yakin kalo dia emang ada disana, di shiroothol mustaqiim.

dia cuma inget ibunya aja.

Cuma inget,

Kalo ibunya lagi sakit, dan setiap malem selalu minta doa dari anak-anaknya. Gapernah lelah buat sms sekedar ngetik satu kata andalannya : “doa’in”. Gapernah lelah untuk percaya sama anaknya yang ini, percaya kalo anaknya bisa jaga kepercayaan yang beliau kasih meskipun jarak antara anak dan ibu ini tak sedekat biasanya.

Dan anaknya yang satu ini pun gapernah lelah, gaakan pernah lelah untuk sekedar bales sms, ngetik “selalu di doain,mah”. Selalu mencoba untuk jaga kepercayaan yang ibunya kasih adalah selalu yang anak ini inginkan, meskipun kadang dalam usaha untuk jaga kepercayaan ibunya gajarang ngebuat orang lain marah dan kesel bahkan mungkin jadi benci ama dia.

Tapi Cuma itu.

dia Cuma inget.

inget ibunya.

Dan juga Tuhannya.

Dan sekarang dia mau minta maaf, maaf karena dia ternyata cengeng dan lemah.

Air keluar dari matanya.

Maaf..

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s