you are the best thing in my life :)

Semua berawal dari hari Sabtu tanggal 9 Mei 2009, saat saya sedang mixing lagu buat aerobik kelas. Saya membuka tas dan mencari handphone untuk mengecek apakah ada message masuk atau tidak. Ternyata sudah ada 2 missed calls dari kakak saya dan beberapa sms yang ternyata isinya adalah “De, bisa ke rumah sakit sekarang?” feeling saya ga enak. Saat itu ibu saya sedang di rawat di rumah sakit karena sakit kanker di kelenjar thyroid yang paling parah dan stadium yang paling tinggi. Jelas, saya khawatir. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, kakak saya menjemput saya di sekolah, dan kami pun pergi ke rumah sakit.

Sampai di ruang rawat ibu, saya melihat kakak tertua saya sedang membaca Al-Qur’an sambil menangis dan mengelus-ngelus tangan ibu. Bapak saya terlihat kurang tidur karena terlalu sering tidak tidur untuk menjaga ibu. Kakak-kakak sepupu saya pun menangis. Entah mengapa saya tak bisa menangis saat melihat kondisi ibu yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit, diberi infus langsung oleh dua botol infus, serta dipasang oksigen di atas mulutnya. Saya tidak menangis. Saya merasa bahwa ibu bisa sembuh. Ibu hanya tertidur untuk sementara dan beberapa jam lagi akan bangun.

Jam berganti jam, saya pun hanya bisa menatap wajah ibu yang sepertinya sangat cape. Untuk menarik nafas pun ia seperti membutuhkan tenaga yang luar biasa besarnya. Ibu saya sangat sabar dalam menghadapi cobaan. Malam pun tiba, saya tetap di samping ibu sambil membacakan Al-Qur’an untuk ibu, beberapa kali saya melihat ibu mengeluarkan air mata, dan saya mengusapnya dengan penuh pengharapan bahwa ibu akan segera bangun. Saya meneteskan air mata. Menyadari betapa kuat dan sabarnya orang yang telah melahirkan saya dan membesarkan saya dengan penuh kasih sayang. Saya ingin menginap di rumah sakit menghabiskan malam minggu ini untuk menemani ibu saya yang sedang koma. Saya bercerita tentang diri saya yang sudah mendapatkan cadangan kuliah, bercerita tentang sekolah saya, bercerita tentang kecengan saya, dan saya katakan bahwa saya ingin sekali creambath bersamanya dan teteh saya. Ibu meneteskan air mata lagi. saya pun meneteskan air mata.

Teman-teman saya sempat menengok ibu saya dan memberikan doa agar ibu lekas sembuh. Saya sangat berterima kasih kepada mereka, cecowo yang sudah menyempatkan menengok ibu saya padahal mereka baru pulang dari Jakarta (Insan Ridho, Prasidhi Artono, Taufan, Audymiola, Muhammad Aulia Alwan, Regiasa Gardhika, dan Chandra Daniel Sidabutar) juga kepada Putri Astari, teman bercerita terbaik yang pernah saya punya.

Saya tak ingin tidur, saya ingin selalu terjaga menemani ibu saya. Beberapa kali perawat datang untuk memeriksa tekanan darah ibu. Dan hasilnya fluktuatif, kadang terlalu rendah kadang naik lalu rendah lagi. Untuk kesekian kalinya saya menatap wajah ibu saya dengan penuh harap Beliau akan segera bangun lagi.

Hari pun berganti, saya tetap di samping ibu saya memberikan support agar Beliau kuat menghadapi sakitnya. Saya memegang tangannya, menatap wajahnya, dan membacakan ayat Al-Qur’an serta memperdengarkan Asmaul Husna kesukaan ibu saya. Saya yakin ibu sebentar lagi akan bangun. Di setiap sujud, saya selalu meminta dengan sangat agar Allah menyembuhkan ibu saya karena hanya dialah Maha Penyembuh. Akhirnya, malam tiba, dan ibu masih koma, saya tak ingin meninggalkan ibu tapi saya harus, karena besok saya ujian praktek dan harus les.

Keesokan harinya saya tak banyak bicara di sekolah. Perasaan saya kacau. Ujian saya pun aneh. Saya hanya ingin ujian cepat selesai, pergi les, dan langsung berangkat ke rumah sakit untuk menjaga ibu saya lagi. Saya begitu ingin ada di sampingnya. Namun, saat saya menelepon Bapak saat les selesai, Bapak bilang lebih baik saya pulang dan istirahat di rumah saja karena banyak orang di rumah sakit yang menjaga ibu. Saya pun dengan berat hati setuju.

Malam harinya sesudah shalat isya dan sempat tertidur sebentar, kakak perempuan saya masuk ke kamar. Dia belum sempat mengatakan apa-apa, namun saya mendengar pengumuman itu dari masjid. “Innalillahi Wainna ilaihi raaji’uun, telah berpulang ke rahmatullah Ibu Hajjah Aan Setiawan, istri dari Pak Aan Setiawan pada pukul setengah sepuluh……..” Saya tak bisa percaya. Saya hanya diam menatap kakak perempuan saya. Kakak perempuan saya hanya bilang “Ikhlas ya de.. biar ibu perginya tenang.” Saya hanya memeluk kakak saya sambil menangis. Para tetangga sudah rame di rumah, mereka menyiapkan semua, menggelar karpet, menyiapkan tenda, kain kafan, tempat untuk memandikan ibu, dan sebagainya. Saya hanya bisa turun dari kamar sambil membawa Al-Qur’an saya yang suka dipakai ibu, yang ibu baca sebelum ibu operasi. Saya menatap banyak orang di rumah saya. Mereka semua memeluk saya dan saya sama sekali tak bisa fokus pada mereka.

Ambulan pun datang, kakak kedua saya turun dari mobil ambulan. Saya yakin air matanya sudah habis. Jenazah ibu digotong sampai ke ruang tamu, ditidurkan di karpet, dan kain yang menutupi wajahnya akhirnya dibuka. Saya hanya bisa menangis, tak sedikit pun kata “Innalillahi” keluar dari mulut saya, tak sedikit pun saya ikhlas melepas ibu. Saya mencium keningnya lama. Mengenang masa-masa yang selalu indah antara saya dan dia.

Saat memandikan jenazah ibu, jelas sekali bahwa ibu pergi dengan tenang. Kulitnya sangat bersinar. Saya pun berusaha ikhlas melepas ibu. Akhirnya, setelah dimandikan dan dikafankan, saya dan keluarga saya mencium ibu untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan ke Sukabumi esok harinya. Saya tak bisa tidur tenang malam itu.

Esok paginya 2 orang teman (Yorga dan Birza) datang subuh-subuh untuk menyolatkan ibu. Mereka sholat berjamaah dengan Abu Syauqi yang saya tak tahu bahwa beliau adalah mantan calon wakil walikota. Saya tersenyum melihat banyak sekali yang peduli pada ibu saya. Pun saat teman-teman terdekat saya datang. Mereka merelakan waktu ujian praktek untuk bertakziyah, melihat saya dan keluarga dan mendoakan ibu saya agar menjadi salah satu ahli syurga. Terima kasih teman :), khususnya pada Insan Ridho Chairuasni, yang selalu memberikan support pada saya agar bisa tabah dan ikhlas.

Sampai di Sukabumi, jenazah ibu disolatkan di mesjid dekat pemakaman keluarga lalu dibawa ke tanah lapang yang sudah digali mungkin sekitar 1 kali 2 meter untuk menguburkan ibu. Air mata saya mengalir deras ketika ibu dimasukkan ke dalam tanah, lebih deras lagi saat tanah mulai ditimbun, saat jenazah ibu tidak terlihat lagi. Saya berusaha ikhlas melepas kepergian ibu. Ingin rasanya saya menginap di samping ibu malam itu, padahal jelas, ibu sudah tidak hidup di dunia lagi.

Saya yakin ibu bisa mendapat nikmat kubur. Ibu yang tidak pernah berhenti belajar sampai tua, selalu pergi ke mesjid untuk belajar bahasa arab, tafsir, dan mendengarkan ceramah. Ibu yang selalu mengingat asmaul husna. Tidak pernah membicarakan aib orang lain. Ibu yang selalu mendengarkan saya walaupun cerita saya tidak penting. Selalu menjahitkan baju baru untuk saya. Mengingatkan saya waktu shalat. Ibu yang selalu bilang bahwa saya adalah anak yang shaleh padahal kakak-kakak saya menganggap bahwa saya adalah adik yang tidak bisa dibanggakan. Ibu yang selalu bilang saya anak yang cantik padahal saya tidak cantik. Ibu yang selalu dengan penuh kasih sayang mencium saya dan menasihati saya jika saya berbuat salah. Sampai jumpa di kehidupan yang lain ibu. Semoga Allah mempertemukan kita di syurga-Nya. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s