cerita pendek

Namanya Oddie, aku berkenaan dengannya saat menginjak kelas 2 SMP. Kami berbeda kelas, namun karena temanku adalah pacar temannya otomatis kami jadi sering bersama. Setiap teman kami mengalami masalah dalam hubungannya, kamilah yang menjadi messenger bagi mereka berdua. Lama kelamaan, kami jadi sering mengobrol untuk cerita, bertukar pikiran, bahkan untuk melampiaskan kemarahan jika kami sedang kesal pada seseorang.

Hampir tiap hari ia meneleponku, katanya ia sedang menyukai salah satu temanku, namun sayang, temanku yang satu itu sudah memiliki pacar. Aku hanya bisa mengucapkan kata “Sabar ya, Ddie.”

Aku menganggap kita bersahabat. Sahabat dekat. Entah mengapa aku sangat nyaman bila bercerita dengannya. Persahabatan kami terus berlanjut sampai akhirnya aku mendengarkan kabar yang (menurutku) aneh dari mulut Mona, sahabatku. Oddie menyukaiku. Aku sulit sekali untuk percaya pada hal itu. Karena menurutku itu adalah hal yang, ehm, konyol. Aku terheran-heran sampai aku menjauh dari Oddie beberapa saat karena aku ingin melupakan apa yang Mona telah ceritakan kepadaku. Aneh.

Namun akhirnya entah bagaimana caranya, aku bisa melupakan hal itu. Oddie tidak pernah mengatakan isi hatinya secara langsung. Mungkin aku saja yang terlalu ke-GR-an, atau mungkin Mona berbohong kepadaku.

Akhirnya, masa SMP pun harus berganti dengan masa SMA, masa yang katanya adalah masa yang paling indah dalam sejarah kehidupan manusia. Berlebihan. Aku dan Oddie bersekolah di sekolah yang berbeda, tapi hubungan kami masih baik. Namun lama-kelamaan aku merasa kehilangan Oddie, ia sudah jarang menelepon dan meng-sms ku, sms-ku pun jarang dibalas, sebenarnya aku hanya ingin mendengar kabarnya. Aku merasa ada yang aneh. Akhirnya, aku memutuskan untuk menanyakan kabar Oddie pada sahabatku yang lain, Gia. Gia memberitahuku bahwa sekarang Oddie telah memiliki pacar.

Perasaanku sedih. Sedih sekali. Mengapa Oddie tidak memberitahuku tentang kabar gembira ini? Mengapa aku harus tahu dari mulut orang lain? Apakah Oddie hanya menganggapku teman biasa? Bukan sahabat?

Sampai suatu hari, konflik itu muncul. Aku dan Gia berencana mengadakan reunian dengan teman-teman SMP karena kita sudah lama tidak bertemu. Kami memutuskan untuk mengadakan pertemuan itu pada hari Sabtu, setelah sebelumnya meminta pendapat dari teman-teman SMP. Namun, pada malam hari Kamis, entah mengapa Oddie meneleponku. Perasaanku senang. Sepertinya Oddie mulai ingat kepadaku. Mungkin ia sudah mau berbagi cerita lagi denganku. Aku mengangkat telepon itu dengan senang.

“Na, reunian ko hari Sabtu?” aku menghela nafas, aku pikir ia akan lebih sopan dengan berbasa-basi sedikit dulu menanyakan kabarku.

“Emang kenapa? Bukannya anak-anak yang lain juga udah pada setuju?”

“Tapi kan gua udah gembar-gemborinnya hari Jum’at!” Nadanya sedikit membentak.

“Lho? Kenapa? Bukannya gua ama Gia udah ngasi tau kal……” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Oddie menutup teleponnya.

Aku menahan air mataku. Heran dengan sikap Oddie yang begitu tidak menganggapku sebagai sahabatnya. Ketika aku mulai beradaptasi dengan tidak adanya Oddie, mengapa Oddie tiba-tiba datang dan marah kepadaku. Hatiku sakit saat itu.

Tibalah hari reuni. Aku menyapukan seluruh pandanganku ke penjuru ruangan, mencari di mana Oddie berada. Namun aku tidak mendapatkan apa-apa. Perasaan bersalah pun menjulur di sekujur tubuhku, aku berasumsi bahwa Oddie tidak datang kemari karena ia kecewa denganku. Aku sedih. Aku bukan sahabat yang baik. Ralat. Maksudku, aku bukan teman biasa yang baik.

Sampai di rumah aku masih bingung dan bertanya-tanya sebenarnya apa salahku? Mengapa Oddie tidak mau berbagi cerita lagi denganku? Dengan perasaan penasaran dan bersalah, ku ketik sms dengan cepat.

Ddie, salah gw apa? Gw minta maaf kalo gw ada salah ama lu.

Gara-gara ada gw ya tadi lu ga dateng?

Maaf, gw ga maksud ngacauin acara lu yang hari Jum’at.

Perasaan, gw udah minta pendapat temen-temen mengenai reunian itu.

Sekali lagi, maaf.

Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Alasan mengapa Oddie tidak datang. Aku segera meng-sms Gia untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Gia sekarang adalah teman berbagi ceritanya Oddie.

Gi, gw ngerasa bersalah banget sama Oddie.

Oddie marah ama gw.

Gia membalas dengan cepat.

Tadi Oddie ke rumah gw, nunjukkin sms lu yang minta maaf.

Aku membalas.

Terus?

Gia membalas.

Gw suruh dia maafin lu.

Sebenernya bukan salah lu juga, Na.

Udahlah lu tenang aja.

Aku membalas.

Gimana gw bisa tenang kalo Oddie belum bales sms gw!

Dia tadi ke rumah lu ngapain aja?

Gia membalas.

Cuma nunjukkin sms lu, terus dia pulang.

Udahlah Na, ga usah dibawa pusing.

Aku membalas.

Thx, Gi.

Beberapa jam kemudian Oddie membalas sms-ku.

Lu ga salah apa-apa ko.

Gw tadi ga dateng gara-gara ada acara lain.

Gw ga marah ama lu.

Lain kali kita jalan yuk, kita cerita-cerita!

Aku senang, Oddie membalas smsku.

Sekarang sudah dua tahun lamanya setelah sms itu diterima olehku.

Namun Oddie tidak pernah membuat kata-kata Lain kali kita jalan yuk, kita cerita-cerita! itu menjadi kenyataan.

Aku tidak sedih.

Aku hanya sadar, bahwa aku bukan sahabatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s